|
Sudah menjadi fakta sejarah bahwa proses pembentukan fondasi
negara Indonesia pada awal abad kedua-puluh, telah menempatkan
keberadaan figur dokter-dokter bumi-putra sebagai pelopor
semangat nasionalisme dan kesadaran berbangsa. Eratnya jalinan
benang merah keberadaan dokter dengan lahirnya semangat tersebut
tidak terlepas dari watak yang dibentuk oleh proses pendidikan
kedokteran dan sumpah serta etika yang harus dipatuhinya sebagai
seorang dokter. Dalam salah satu kalimat pada “Hippocratic
Oath" dinyatakan dengan tegas:
"What ever houses I may visit, I will come for the benefit of
the sick, remaining free of all intentional injustice, of all
mischief and in particular of sexual relations with both female and
male persons, be the free or slaves..."
atau
seperti yang tertuang dalam dua kalimat pada “Physician’s
Oath” The world MedicalAssociation, Declaration of Geneva"
"I will not permit consideration of my religion,
nationality, race, party politics or social standing to
intervene between my duty and my patient...”
"I will maintain the utmost respect for human life from
the time of conception, even under threat, I will not use my
medical knowledge contrary to the laws of humanity...”
Dokter
adalah figur yang mengabdikan profesinya, tanpa dipengaruhi
pertimbangan-pertimbangan agama, kedudukan sosial, jenis
kelamin, suku dan politik kepartaian. Artinya, dalam pekerjaan
keprofesiannya dokter sarat dengan nifai kesetaraan. Sebuah
nilai yang dapat menumbuhkan rasa ketertindasan yang sama akibat proses
penjajahan pada masa itu, yang akhirnya menimbulkan rasa
kebangsaan yang kemudian dapat berkembang menjadi rasa
nasionalisme.
Tidak
mengherankan jika pada peniode 1908, kelompok pertama yang
memiliki semangat nasionalisme adalah dokter. Inilah yang
menjadi embrio kesadaran berbangsa yang pada gilirannya
melahirkan semangat kebangkitan nasional. Dokter Wahidin
Sudirohusodo penggagas berdirinya Budi Utomo menyadari bahwa
keterbelakangan dan ketertindasan rakyat harus dihadapi melalui
organisasi yang dapat memajukan pendidikan dan meninggikan
martabat bangsa.
Gagasan ini kemudian diwujudkan oleh mahasiswa kedokteran (Sutomo
dan teman-teman mitra profesi lainnnya). Dan, sejarah mencatat,
20 Mei 1908 organisasi Budi Utomo lahin. Hari lahir tersebut
kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah
awal kebangkitan bangsa yang bertujuan untuk mencapai kehidupan bangsa yang terhormat. Budi Utomo kemudian bukan
hanya milik para dokter. Organisasi ini menjadi milik bersama
yang dijalankan (untuk pertama kalinya) juga oleh tokoh
pemerintahan pada waktu itu (sebagai ketuanya, penulis, opsir,
dll.
Kemudian, dalam peran kesejarahannya, kiprah dokter-dokter dan
generasi penerusnya --dalam konteks kebangsaan --terus berlanjut,
baik di jaman Pendudukan Tentara Jepang, fase perang kemerdekaan,
masa mempertahankan kemerdekaan dan sampai hari ini, mengisi
kemerdekaan melalui pengabdian profesi menurut ukuran dan
standar tertinggi.
Di hari ulang tahun IDI ke 57, kurang lebih 6 bulan lagi
menjelang seabad kebangkitan nasional dan sekaligus seabad
kiprah dokter Indonesia (20 Mei 2008), apakah tujuan untuk
mencapai kehidupan bangsa yang terhormat sebagaimana
dicita-citakan untuk pertama kalinya oleh para dokter tersebut
sudah tercapai? Apakah keberadaan dokter --yang ditunjang oleh
sistem praktiknya --saat ini dapat berperan seutuhnya
terkait dengan kontribusi profesi kedokteran dalam menggapai
cita-cita menciptakan bangsa yang terhormat tersebut?
Marilah kita lihat
jawabannya dengan melihat realitas dan ukuran objektif kondisi
kehormatan sebuah bangsa, melalui beberapa indikator yang dapat
mencerminkan hal tersebut: dalam ”setting” sehat sakitnya sebuah
bangsa. Dan marilah kita cermati pula, apakah sistem praktik
kedokteran Indonesia perlu direkonstruksi melalui berbagai
intervensi kesisteman agar para dokter kembali menempatkan
“kesehatan dalam arti sesungguhnya”; yaitu kondisi kesehatan yang
sangat membutuhkan adanya revitalisasi peran dokter Indonesia
sebagai sosok cendekia-profesional sesuai zamannya.
“Sehat yang
Sesungguhnya”
Sehat yang
sesungguhnya, bukan hanya bebas dan penyakit. Seharihari, masyarakat
cenderung mengartikan sehat hanya bebas dari penyakit fisik semata.
Padahal, sudah sejak lama definisi sehat yang diterbitkan World
Health Organization (WHO) dan diadopsi juga oleh UU RI nomor 23
Tahun 1992 tentang Kesehatan, menyatakan bahwa, sehat selain
mengandung dimensi
fisik,
juga
mengandung dimensi mental dan sosiaf.4
“..Health is a
state of complete physical, mental and social well-being, and not
merely an absence of disease infirmity.
.
.“(WHO, 1948)
“...Kesehatan
adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial, yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan
ekonomis~(UU
No 23Tahun 1992...)
Tentu saja, sehat
fisik di tempatkan sebagai komponen terpenting dan keadaan sehat
secara keseluruhan. Sehat fisik artinya seluruh organ tubuh berada
dalam ukuran yang seharusnya, dan berada dalam kondisi optimal,
serta dapat berfungsi normal. Sehat secara fisik umumnya diukur dan
parameter; dari nilai-nilai normal; dari tanda-tanda vital tubuh, antara lain: denyut nadi pada saat
istirahat, tekanan darah
Sehat mental di tempatkan sebagai sisi lain yang terintegrasi
dari sehat fisik; sebuah sisi lain dari "Koin mata
uang” kesehatan. Ciri seseorang (dan
masyarakat) yang dinyatakan sehat secara mental minimal meliputi: merasa puas dengan keadaan dirinya (tidak pernah
merasa kecewa dengan keadaan dirinya); patuh pada aturan-aturan;
dapat menerima dengan baik perbedaan antar sesama; mudah
menerima kritik; mempunyai kontrol diri yang baik (tidak akan
selalu didominasi oleh emosi, rasa kecewa dan marah).
Sehat secara sosial (social well-being); yang di beberapa
literature ditambahkan dan atau dikaitkan juga dengan sehat
rohani; juga memiliki berbagai ciri. Walaupun banyak perbedaan
pendapat tentang kondisi sehat sosial yang ideal, secara umum
disepakati, bahwa ciri seseorang (dan masyarakat) yang sehat
secara sosial mellputi atau berkonotasi dengan kemampuan
seseorang untuk : membina hubungan keakraban dengan sesame; memiliki tanggung
jawab menurut kapasitas yang dimilikinya; dapat hidup secana
efektif dengan sesame; dan menunjukkan perilaku sosial yang
penuh perhitungan.
Wacana
Secara objektif ukuran yang dapat mencerminkan kehormatan satu
bangsa, terkait dengan sehatnya sebuah bangsa dari sisi sehat fisikmental-sosial, dapat diiihat dan beberapa indeks
global, antara lain: Human
Development Index
(HDI), Human Poverty Index (HPI), Index of Economic
Freedom (IEF).
HDI
merupakan gambaran dan tiga indikator, yaitu: kesehatan,
pendidikan dan pertumbuhan ekonomi. Di tingkat
ASEAN, pada tahun 1996, bangsa kita disalip (ditinggal) oleh
Vietnam yang baru saja
“merdeka” (Lihat Gambar 1). Apabila dibandingkan dengan
Malayasia, Singapore atau Thailand, bangsa kita semakin jauh
tertinggal. Kontribusi dan rendahnya pencapaian ketiga
indikator (kesehatan-pendidikan-pertumbuhan ekonomi) tersebut:
saling melengkapi terhadap turunnya kehormatan bangsa.
Khusus untuk
kesehatan, ukurannya hanya satu, yaitu Usia Harapan Hidup (UHH).
Gambar 1: Hasil Lomba HDI Indonesia dengan Vietnam

Untuk memperbaiki HDI—dalam hal mi melalui kontribusi
peningkatan angka UHH - maka prioritas program kesehatan fisik
jangan sampai terjebak pada program jangka pendek di sektor
hilir, yaitu program menyehatkan/mengobati orang sakit. Kalaulah
prioritas program kesehatan lebih pada upaya untuk mengobati
orang sakit dengan iming-iming berobat gratis (sebagai catatan:
hal ini seringkali menjadi “program unggulan” beberapa pimpinan
daerah) maka hal tersebut terlalu riskan. Program kesehatan yang
lebih terfokus pada upaya mengobati masyarakat sakit akan
“terlalu dekat” dengan risiko kematian. Kondisi ini dapat
meningkatkan angka kematian pada semua kelompok umur (apalagi pada usia rentan, bayi dan anak); atau pada sisi lain akan
menurunkan rata-nata UHH
Semestinya, program kesehatan (dan “kampanye politik” dalam
bidang kesehatan) diprioritaskan untuk mencegah rakyat agar
tidak jatuh sakit. Sakit-sehatnya rakyat lebih ditentukan oleh
faktor perilaku sehat dan lingkungan sehat. Program kesehatan
harus lebih ditujukan pada perubahan perilaku dan penataan
lingkungan.
Program kesehatan yang ditujukan untuk merubah/pemeliharaan
perilaku (health promotion) memberikan kontribusi sekitar
50% untuk menyehatkan rakyat. Program kesehatan yang
ditujukan untuk merubah/pemeliharaan lingkungan berkontribusi
sekitar 20% untuk penyehatan rakyat. Bandingkan dengan Program
kesehatan yang ditujukan untuk mengobati orang
sakit(maksimalisasi rumah-rumah sakit dan puskesmas hanya
untuk pengobatan) hanya berkontribusi sekitar 10% untuk
menyehatkan rakyat (Lihat Gambar 2).
Gambar 2:
Modifikasi dari The Force Field and Well-Being Paradigms of
Health

Kalau upaya menyehatkan rakyat ditekankan pada upaya untuk
mengobati masyarakat yang sakit maka masyarakat akan cenderung tidak menjaga kesehatannya, yang merokok misalnya tetap merokok
(“..toh.. kalau nanti saya sakit, saya dapat berobat gratis..");
akibatnya kalau sudah masuk rumah sakit, risiko kematian semakin
meningkat; dan sekali lagi, secara otomatis akan berkorelasi
dengan menurunnya angka rata-rata usia harapan hidup.
Untuk itu, marilah kita bersama-sama merenungkan kejadian
penyakit-fisik di Indonesia yang memiliki risiko kematian
tinggi. Contoh aktual adalah Demam Berdarah. Saat ini, angka
kejadiannya secara nasional masih menjadi masalah kita bersama.
Belum lagi kejadian penyakit-penyakit lain seperti: TBC,
HIV/AIDS, Malaria. Rakyat yang sakit Demam Berdarah, TBC,
HIV/AIDS, Malaria, dll, jelas harus diobati namun secara
bersamaan harus ada intervensi agar kejadian penyakit ini dapat
dicegah. Kalau resiko kejadian penyakit ini ditekan dan kondisi
sakit-fisik tidak sempat muncul, resiko kematian akan menjauh.
UHH dapat “diamankan" UHH yang tinggi akan memberikan
kontribusi untuk meningkatkan HDI sebagai salah satu indikator
meningkatnya kesejahteraan (kehormatan) bangsa.
Kita bersyukur bahwa saat
ini pencapaian pembangunan
kesehatanfisik sudah menunjukkan hasil yang memuaskan. Namun
demikian, tanpa mengurangi penghargaan atas keberhasilan
pembangunan kesehatan-fisik tersebut,; sejumlah fakta
menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit-penyakit yang berisiko
(seperti contoh di atas) masih menyumbangkan angka kematian yang
cukup tinggi. Hal ini berarti, masih banyak yang harus diperbaiki
dalam upaya tersebut. Pilihan perbaikan tersebut: 1) dapat
dilakukan di tingkat kebijakan kesehatan; 2) dapat pula
dikerjakan di tingkat sistem kesehatan;
3) dapat juga dijalankan
di tingkat subsistem kesehatan (termasuk hanya dalam tingkat
manajemen kesehatan). Artinya, secara ideal harus terus
dikembangkan “kebijakan-sistem-subsistem” pembangunan
kesehatan-fisik yang dapat mendorong rakyat agar tidak jatuh
sakit. Karena, rakyat yang sakit-sakitan tidak akan produktif,
tidak fit untuk bekerja dan tidak akan cerdas dalam
pendidikannya.
Selain HDI, kondisi objektif HPI & lEFjuga harus menjadi
perhatian.” HPI (Human Property Index) yang meningkat merupakan
cerminan dan ketidak adilan distribusi kekayaan dan
kesejahteraan ekonomi. Sebuah ketidak adilan ekonomi akan
berbuah pada kemiskinan. Kemiskinan yang tinggi akan menyebabkan
lemahnya akses rakyat untuk memperoleh kesehatan dan pendidikan
yang baik. Akibatnya, masalah sehat sosial menjadi beban baru.
Masyarakat yang tidak sehat (sakit) secara sosial terdiagnosis
dan kondisi, seperti: meningkatnya krimmnalitas dan perilaku sosial yang tidak penuh
perhitungan
Belum lagi
kondisi objektif yang digambarkan melalui IEF (Index of
Economic Freedom). Lunturnya martabat sebagai bangsa
terhormat suka tidak suka sudah terjadi. Indonesia adalah negara
yang hampir tidak merdeka, campur tangan negara lain dalam
pengaturan ekonomi bangsa sangatlah terasa. Kondisi ini semakin
diperparah oleh praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang
masih terus terjadi sampai hari ini. Sebuah penyakit mental yang
kronis. Sakit fisik, sakit sosial, yang akhirnya dilengkapi
dengan sakit mental. Sakit mental -yang tergambar dan kondisi
tidak merasa puas dengan keadaan diri; merasa kecewa dengan
keadaan dirinya; dan tidak mau patuh pada aturan-aturan yang
ada—rasanya sudah menjadi salah satu masalah kesehatan bangsa
yang kronis.
Secara
kualitatif, silahkan didiagnosis cerminan kesehatan-mental dan
sosial bangsa kita saat ini berdasarkan ciri-ciri masyarakat yang
sakit secara mental dan sosial.
Dengan
merujuk pada indikator dan ciri-ciri di atas, setujukah kita
bahwa bangsa Indonesia, dalam perspektif “kesehatan yang
sesungguhnya” adalah bangsa yang sedang sakit, yaitu sakit
“fisik-mental-sosial”? Tentu saja, pertanyaan dan wacana ini akan
menimbulkan pro dan kontra. Namun demikian, terlepas dan pro dan
kontra yang akan muncul, secara teoritis tidak dapat dipungkiri
tentang besarnya kontribusi pembangunan kesehatan, yaitu
pembangunan kesehatan “flsik-mental-sosial dalam mencapai
tingkat kehormatan sebuah bangsa.
Penutup
Wacana
Revitalisasi Peran Dokter
Apabila
hipotesis tentang kondisi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang
sedang sakit dan sisi fisik-mental-sosial, kemudian terbukti
benar. Para dokter harus berkontribusi Iebih aktif untuk
menyehatkan bangsa ini. Dokter harus segera merevitalisasi peran
komprehensif pengabdiannya. Sebagai sosok profesional-cendekia,
dokter selain berkontribusi dalam upaya menyehatkan fisik
masyarakat, secara simultan juga harus berupaya mengintegrasikan
upayanya dalam proses penyehatan mental dan sosial masyarakat.
Untuk saat ini, apabila peran dokter akan direvitalisasi, dengan harapan
mampu melakukan intervensi menyeluruh terhadap permasalahan
kesehatan bangsa (fisik-mentakosial), mungkin akan muncul
skeptisisme di tengah-tengah masyarakat. Sikap skeptis ini wajar
karena selama ini peran dokter lebih terlihat pada upaya
penyehatan fisik. Proses reduksi peran dokter yang tidak disadari
dan telah berlangsung sekian lama, teryata telah memarjinalkan
fungsi dokter. Persepsi sosial hari ini, sosok dokter tidak lebih
dan seorang agent of treatment.
Dewasa ini, para dokter telah terjebak pada rutinitas
profesionalisme yang sempit. Banyak dokter (atau lebih tepatnya
wawasan kedokterannya), lebih concern bahwa ilmu kedokteran
hanyalah mempelajari segala sesuatu tentang penyakit. Akibatnya
kewajiban untuk menyehatkan rakyat hanya sekadar menganjurkan
minum vitamin, mineral, tonik, dll, serta mengobati pasien yang
sakit. Dokter lupa bahwa selain melakukan intervensi fisik, juga
harus berperan dalam intervensi mental dan sosial di tengah
masyarakat. Dokter
sebagai seorang profesional-cendekia dalam kiprahnya melekat
tanggung jawab sebagai agent of change sekaligus agent of
development untuk masyarakat. Dalam istilah yang berbeda, di era
ke-kinian, WHO menggambarkan peran dokter sebagai seorang
professional-cendekia ini sebagai “the five stardoctors", yaitu dokterdokter yang tidak hanya memiliki kompetensi sebagai
medical care provider, namun juga melekat pada dirinya
kompetensi-kompetensi lain, yaitu sebagai community leader,
decision maker, communicator dan sebagai seorang
manager.
Menuju
Seabad Kiprah Dokter Indonesia, 20 Mei 1908-20 Mei 2008
Negara
harus menjamin tercapainya keadaan sehat yang positif, yaitu
sehat yang optimal dari sisi fisik, mental, dan sosial. Sehat
yang positif merupakan modal dasar kehidupan rakyat. Negara
harus semakin serius memandang bahwa peningkatan derajat
kesehatan tidaklah hanya melalui upaya pengobatan fisik semata.
Pemerintah bersama-sama pengandil kepentingan mulai harus
memikirkan pengembangan
sistem/teknologi/metode yang sesuai pada masa
mi agar terjadi
akselerasi dalam proses penyehatan fisik-mentaldan sosial
masyarakat (Lihat Gambar 3).
Gambar 3:
Kerangka Pikir Revitalisasi Peran Dokter dan Pengembangan
Sistem/ Teknologi/Metode yang sesuai untuk Penyehatan Bangsa

Dokter
tidak boleh terpaku bahwa setelah melakukan penyuluhan kesehatan
merasa bahwa semua tugas sudah dilakukan. Pemerintah harus lebih
mengembangkan lagi sistem yang dapat mendorong dokter untuk
melakukan program individual health promotion-health
education secara terus menerus kepada setiap anggota
masyanakat.
Kalau
sistem ini dapat diciptakan maka dokter selain mengintervensi
kesehatan fisik, dapat pula mengintenvensi kesehatan mental dan
sosial anggota masyarakat tersebut.
Menuju
seabad kiprah dokter (dan seabad kebangkitan nasional 2008),
sekali lagi, dokter bersama-sama pemerintah harus menata sistem
yang memungkinkan dokter dapat merevitalisasikan peran
komprehensifnya sebagai agent of change dan agent of
development.
Untuk itu,
dibutuhkan proses rekonstruksi sistem kesehatan nasional yang
memungkinkan peran komprehensif tersebut dapat diterapkan.
Salah satu
alternatif rekonstruksi tersebut, dan saat ini selalu
diadvokasikan secara terus menerus oleh Ikatan Dokter Indonesia,
adalah pengembangan sistem praktik kedokteran terpadu. Sistem
praktik kedokteran terpadu adalah sistem pelayanan kesehatan
perorangan yang ujung tombak pelayanannya menggunakan pendekatan
praktik kedokteran keluarga. Pelayanan kesehatan yang menggunakan pendekatan praktik
kedokteran keluarga - apapun namanya: kalau di Belanda dikenal
dengan istilah dokter keluarga, di lnggris tetap dikenal dengan
nama dokter umum/general practitioner, atau
“dokter-layanan-primer-berdasarkan-pendekatan-keluarga” menurut
istilah kurikulum berbasis kompetensi untuk pendidikan
kedokteran di Indonesia saat ini—adalah entitas pelayanan yang
terdiri dari “dokter keluarga” dan timnya, yaitu: “bidan
keluarga’ “perawat keluarga’ “apoteker keluarga’ dan mitra-mitra
profesi lainnya, yang bertugas membina fisik-mental-sosial
sekitar 2.500 anggota keluarga. Mungkin istilah ini dapat juga
disesuaikan dengan situasi dan kondisi pembangunan kesehatan
pada saat ini.
Praktik
kedokteran dengan pendekatan keluarga berorientasi pada upaya
personal care, primary medical care, continuing care dan
comprehensive care. Dengan pendekatan ini, dokter dan timnya akan menjadi bagian dan keluarga-keluanga
Indonesia. Melalui sistem ini, dokter dan timnya akan banyak
“berbicara dari hati ke hati” dengan anggota-anggota keluarga,
menyehatkan keluargakeluarga (dan bangsa), tidak hanya fisik,
namun juga mental dan sosial. Di sinilah letak
revitalisasi peran komprehensif dokter yang sesungguhnya (Lihat Gambar 4). Apabila dalam tindakan atas empat
caring tersebut tidak dapat dipenuhi, dokter keluarga kemudian
melakukan pendampingan dan merujuk client-nya ke
pelayanan tingkat lanjutan (secondary dan tertiary care). Dengan
sistem ini juga, dokter layanan skunder (spesialis) dan layanan
tersier (sub-spesialis) dapat lebih fokus melayani dan hanya
menjalankan pekerjaan keprofesiannya sebagai seorang spesialis
dan sub-spesialis.
Gambar 4: Modiflkasi Sistem Pelayanan Kedokteran Terpadu dengan Praktik Kedokteran Keiuarga sebagai Ujung Tombak Pelayanan

Menuju seabad kebangkitan nasional tahun 2008, tahapan
pengembangan sistem praktik kedokteran berdasarkan pendekatan
keluarga ini harus mulai disepakati oleh selunuh pengandil
kepentingan, khususnya di daerah perkotaan. Sistem ini hanya
dapat berjalan apabila Sistem Jaminan Sosiai Nasional Bidang
Kesehatan (asuransi kesehatan sosial)—yang sudah mulai berjalan
(“dengan embrionya”) asuransi kesehatan untuk masyarakat miskin
(ASKESKIN)—sudah semakin benkembang. Hal ini mengingat bahwa,
sistem praktik kedokteran keluarga harus berbasis asuransi
kesehatan sosial yang bersifat pra-bayar; tentu saja dengan
“pembayaran” yang sesuai dengan upaya untuk mewujudkan sistem
kendali mutu dan sistem kendali biaya dalam praktik kedokteran
yang baik.
Catatan
Akhir: Gerakan Dokter Untuk Bangsa
Keberhasilan revitalisasi peran komprehensif dokter akan
berkontribusi sangat signifikan pada kesehatan
fisik-mental-sosial bangsa. Dan, tidak dapat dipungkiri besarnya
kontribusi kesehatan bangsa pada kelangsungan pembangunan
nasional, termasuk ketahanan nasional di dalamnya. Khusus untuk
ketahanan nasional, sebagaimana yang sudah kita ketahui adalah
suatu kondisi dinamis satu bangsa yang terdiri atas ketangguhan
serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan
nasional dalam menghadapi segala macam dan bentuk ancaman,
tantangan, hambatan dan gangguan baik yang datang dan dalam
maupun luar, secara langsung maupun tidak langsung yang
mengancam dan membahayakan integritas, identitas, kelangsungan
hidup bangsa dan negara serta perjuangan dalam mewujudkan tujuan
perjuangan nasional.
Ketahanan
nasional merupakan integrasi dan kondisi tiap aspek kehidupan
bangsa dan negara. Ketahanan Nasional merupakan kemampuan dan
ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan
hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara. Berhasilnya
pembagunan nasional akan meningkatkan ketahanan nasional.
Ketahanan nasional yang tangguh akan lebih mendorong pembangunan
nasional. Bangsa yang sakit akan menurun kemampuannya dalam
pembangunan nasional dan akhirnya dapat melemahkan ketahanan
nasional. Begitu juga sebaliknya
Gerakan
Dokter untuk Bangsa—dikaitkan dengan semangat dokter Indonesia
membangun kembali kehormatan dan ketahanan (nasional) bangsa—adalah
gerakan yang menghimpun dan mengerahkan segenap potensi dokter
dan potensi masyarakat untuk menyehatkan bangsa. Melalui
“TRIAS-PERAN” yang seharusnya dijalankan dokter, masyarakat dan
bangsa akan mendapatkan manfaat yang semakin besar dan potensi
yang dimiliki oleh profesi kedokteran. Diharapkan gerakan ini juga dapat menjadi wujud kepedulian profesi dokter (Professional
Social Responsibility) untuk mencapai kehidupan bangsa yang
terhormat dan bermantabat sebagaimana dicita-citakan oleh dokter
Indonesia di awal abad ke-20 yang lalu.
Hanya
bangsa sehat yang dapat menjadi bangsa terhormat. Menjadikan
Indonesia sebagai bangsa yang terhormat: itulah citacita dokter
Indonesia hampir seadab yang lalu. Mudah-mudahan melalui Hari Ulang Tahun Ikatan Dokter Indonesia ke-57 yang dirangkaikan
dengan Halal Bi Halal Idul Fitri 1428 H dan Pencanangan Gerakan
Dokter untuk Bangsa menuju Seabad Kebangkitan Nasional dan
Seabad Kiprah Dokter Indonesia (20 Mei 1908-2008), bergaung
semangat baru, semangat dan pesan dan Gedung Eks Stovia yang
bersejarah ini, semangat untuk kembali secara konsisten
mempenjuangkan tercapainya kehidupan bangsa
yang terhormat. Sebuah kehidupan bangsa
yang dicita-citakan jauh sebelumnya oleh para dokter yang
menjalani pendidikan kedokterannya di gedung ini.
Semoga Allah SWT senantiasa memberkati usaha dan upaya kita
semua. Sekian dan terima kasih. DIRGAHAYU IKATAN DOKTER
INDONESIA. JAYALAH BANGSA DAN NEGARA KITA.
Billahittauflq Wa!
Hidayah. Wassalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
|