SIMPOSIUM SEHARI KESEHATAN JIWA DALAM RANGKA MENYAMBUT HARI KESEHATAN JIWA SEDUNIA

  Penyelenggara :
IKATAN DOKTER INDONESIA CABANG JAKARTA BARAT

Bekerjasama dengan :
FK UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
FK UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
FK UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

27 OKTOBER 2007
HOTEL RED TOP, JAKARTA

 GANGGUAN AFEKTIF
Dr. R. Surya Widya, SpKJ

EPISODE DEPRESI
Biasanya berlangsung paling sedikit 2 minggu lamanya, memperlihatkan paling sedikit empat dari gejala-gejala berikut ini, yaitu:
  • Sedih/murung hampir sepanjang waktu
  • Kehilangan minat/gairah hidup
  • kehilangan nafsu makan, (penurunan berat badan)
  • perubahan pola tidur, (insomnia atau hipersomnia)
  • perubahan pola tingkah laku, (serba lamban)
  • kekurangan energi, (mudah lelah lesu)
  • merasa bersalah/berdosa,
  • kesulitan berpikir (susah konsentrasi)
  • kesulitan membuat keputusan
  • berulang-ulang memikirkan tentang kematian dan ingin bunuh diri.
ETIOLOGI
Faktor psikososial : ada teori yang menjelaskan bahwa situasi stres akan menyebabkan perubahan pada beberapa jenis neurotransmitter dan pemindaian intraneuronal di otak, yang selanjutnya menyebabkan kehilangan fungsi neuron tertentu dan hambatan yang berlebihan pada hubungan dalam synaps.

Menurut catatan yang ada di USA, peristiwa kehidupan yang paling banyak menyebabkan depresi adalah kehilangan orang tua sebelum berusia 11 tahun, kemudian kehilangan pasangan hidup, dan kehilangan pekerjaan.
 
GAMBARAN KLINIK

Episode depresi dapat terjadi pada gangguan depresi dan gangguan mania. Hanya dengan memperhatikan riwayat penyakit terdahulu dan riwayat keluarga, maka kita baru dapat membedakannya dengan jelas.

Gejala pokok dan depresi adalah perasaan yang sedih dan kehilangan interes terhadap segala sesuatu. Pasien dapat mengungkapkan bahwa mereka merasa murung, tidak ada harapan, terbuang dan tidak berharga. Pasien sering mengaku bahwa perasaannya sakit sekali, dan kadang-kadang sampai tidak bisa menangis.

Hampir 2/3 pasien depresi memikirkan untuk bunuh diri dan hanya 10-15 % yang melakukan percobaan bunuh diri. Mereka yang dibawah ke rumah sakit karena percobaan bunuh diri akan lebih berhasil bunuh diri daripada mereka yang belum pernah dirawat di rumah sakit. Beberapa pasien yang tidak menyadari bahwa mereka menderita depresi, namun terlihat bahwa mereka menjauh dari keluarga, teman­teman dan aktivitas yang mereka sukai. Hampir semua pasien (97%) mengeluh bahwa mereka kekurangan energi, sukar menyelesaikan tugas mereka, prestasi belajar menurun, prestasi pekerjaan menurun, kurang motivasi untuk menerima tugas atau proyek baru. Sekitar 80% pasien depresi mengeluh tentang kesulitan tidur,

terutama suka terbangun diri hari atau sering terbangun di malam hari, ketika mereka sedang merenungkan tentang masalah mereka. Banyak pasien depresi kehilangan nafsu makan dan kehilangan berat badan, tetapi ada juga yang mengalami penambahan nafsu makan dan kenaikan berat badan, juga tidur lebih lama dari biasanya.

Cemas adalah gejala yang juga dialami oleh 90% pasien depresi. Perubahan dari pola makan dan pola istirahat dapat menyebabkan timbulnya penyakti lain seperti diabetes, hipertensi, gangguan sesak napas kronik dan gangguan jantung. Ada juga yang mengalami gangguan haid dan penurunan gairah seksual. Masalah seksual kadang-kadang pasien dirujuk secara keliru kepada penasehat perkawinan dan terapi seksual, oleh karena dokter yang merujuk gagal mengenali gangguan depresi yang menjadi landasan dari gangguan seksual tersebut. Dalam beberapa studi ditemukan bahwa terdapat 84% pasien depresi mengalami gangguan untuk berkonsentrasi dan 67% mengalami gangguan dalam berpikir.

Fobia sekolah, kemelekatan pada orang tua boleh jadi merupakan gejala depresi pada anak. Prestasi akademis yang buruk, penyalahgunaan zat, tingkah laku antisosial, seks bebas, bolos sekolah dan kabur dari rumah mungkin merupakan gejala depresi pada remaja.

Depresi lebih sering dialami oleh orang tua, terutama yang berhubungan dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah, kehilangan pasangan hidup, penyakit fisik yang tidak ada harapan untuk sembuh dan isolasi sosial. Pada umumnya gangguan depresi pada orang tua tidak terdiagnosis dan tidak diterapi secara adekuat.
 

STATUS MENTAL
  • Tampilan umum:
    • Retardasi psikomotor
    • Agitasi psikomotor
      • Tangan seperti meremas-remas
      • Mencabuti rambut
    • Tubuh membungkuk
    • Gerak gerik lamban
    • Menghindari kontak mata
  • Alam perasaan:
    • Murung/sedih
    • Menarik diri
    • Segala aktivitas berkurang
  • Gangguan persepsi:
    • Waham
      • Dosa, tidak benharga, kejar (serasi afek)
    • Halusinasi
      • Akustik (yang menyalahkan atau menuduh)
  • Gangguan pikiran:
    • Berpikir negatif tentang kehilangan, rasa bersalah, bunuh diri dan mati
    • Bisa terhambat
    • Miskin (tidak produktif)
  • Gangguan orientasi:
    • Pada umumnya tidak terganggu
  • Gangguan daya ingat:
    • 50-75% sulit konsentrasi dan pelupa
  • Gangguan pengendalian diri:
    • 10-15% melakukan percobaan bunuh diri (suicide)
    • Ingin bunuh orang (homicide)
    • Kurang motivasi dan kurang energi untuk melakukan tindakan impulsif
    • Hati-hati dengan paradoxical suicide
  • Tambahan:
    • Melebih-lebihkan keburukan atau kegagalan diri sendiri Mengurangi kebaikan atau keberhasilan diri sendiri (perlu cross check dari keluarga dekat/kerabat dekat/pendamping.
PERJALANAN PENYAKIT

Penyakit gangguan depresi yang tidak diobati bisa benlangsung sampai 6-13 bulan lamanya; apabila diobati bisa berlangsung sampai 3 bulan. Setelah obat antidepresi dihentikan, tidak sampai 3 bulan biasanya bisa kumat lagi.
 

PROGNOSIS

Pada umumnya gangguan depresi cenderung menjadi gangguan yang menahun, kumat-kumatan. Rata-rata 25 % pasien kumat dalam waktu 6 bulan setelah keluar dan perawatan di rumah sakit jiwa. Yang tidak sembuh-sembuh biasanya berlanjut menjadi pasien dengan gangguan disthymic.
 

TERAPI
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan
  1. keselamatan pasien harus didahulukan
  2. diagnosis harus ditegakkan dengan benar
  3. rencana terapi tidak hanya menghilangkan gejala, juga memperhatikan aspek pemulihan kedepan
Perawatan di rumah sakit : indikasi rawat adalah untuk penegakkan diagnosis, menghindarkan resiko bunuh diri atau bunuh orang dan untuk mengatasi perawatan diri yang terabaikan
  • Terapi psikososial:
    • Terapi kognitif
    • Terapi interpersonal
    • Terapi tingkah laku
    • PsikoTerapi
    • Terapi keluarga
  • Terapi obat:
    • Antidepresi (trisiklik, tetnasiklik, MAO-A inhibitor, SSRI dll)
    • Lithium carbonate
    • Boleh ditambahkan obat anticemas apabila diperlukan
    • Boleh diberikan obat antipsikosis apabila ada gejala psikotik
  • ECT:
    Alasan:
    • obat-obatan kurang efektif
    • pasien tidak bisa menenima obat-obatan
    • kesembuhan segena dengan alasan klinis
EPISODE MANIA
Biasanya paling sedikit belangsung selama satu minggu, afeknya meningkat, lebih gembira, mudah tersinggung atau membumbung tinggi. Ditambah dengan :
  • rasa percaya harga diri yang meningkat (merasa hebat/megalomania)
  • kebutuhan akan tidur berkurang
  • lebih banyak bicara
  • flight of ideas (loncat gagasan)
  • agitasi psikomotor, ingin segera memenuhi keinginannya
  • boros, banyak belanja, banyak telepon
  • perhatian mudah beralih
  • banyak melakukan hal-hal yang menghibur (menari, menyanyi dll)
  • banyak melakukan transaksi tanpa perhitungan masak yang merugikan

Pasien mania yang tidak dirawat seringkali minum alkohol secara berlebihan, pasien sukar dicegah untuk menggunakan telepon secara berlebihan (interiokal di pagi hari). Mereka juga suka berjudi secara patologik, buka baju di tempat umum, mengenakan baju atau perhiasan yang warnanya sangat mencolok, juga suka mengabaikan hal-hal kecil seperti tidak meletakkan gagang telepon secara benar ditempatnya. Pasien suka terlibat secara berlebihan dengan masalah keagamaan, politik, keuangan, seksual dan ide pengejaran yang berkembang dalam sistem waham yang kompleks. Terkadang mereka juga bisa regresi seperti bermain dengan urine dan feces sendiri.
  

GAMBARAN KLINIK

Tampilan umum :
bersemangat, banyak bicara, melawak, hiperaktif. Ada kalanya mereka memperlihatkan gejala psikotik dan bingung sehingga perlu difiksasi dan diberikan suntikan antipsikotik.

Alam perasaan, emosi :
perasaannya hiperthym, mudah tersinggung, tidak mudah frustrasi, mudah marah dan menyerang. Emosinya tidak stabil, bisa cepat berubah dan gembira ke depresi dalam beberapa menit saja.

Cara bicara:
bicaranya sukar dipotong, bombastis, volumenya keras, bermain dengan kata-kata, bercanda, berpantun, dan tidak relevan. Selanjutnya bisa terjadi loncat gagasan, asosiasi menjadi longgar, konsentrasi berkurang, bisa inkoheren dan neologisme sehingga sukar dibedakan dengan pasien skizofrenia.

Gangguan persepsi:
75 % pasien mania mengalami waham, yang biasanya berhubungan dengan kekayaan, kemampuan yang luar biasa, kekuatan atau kehebatan yang luar biasa. Kadang-kadang ada waham dan halusinasi yang kacau dan tidak serasi.

Gangguan pikiran:
Pikiran pasien terisi dengan rasa percaya diri yang berlebihan, merasa hebat. Mereka mudah teralihkan perhatiannya, sangat produktif dan tidak terkendalikan.

Gangguan sensorium dan fungsi kognitif:
Ada sedikit gangguan pada fungsi sensonum dan kognitif, terkadang jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan meskipun tidak ada gangguan orientasi dan daya ingat.

Gangguan pengendalian diri:
Sekitar 75 % pasien mania suka mengancam dan menyerang. Ada juga yang melakukan homicide dan suicide. Mereka sukar menahan diri yang tidak melakukan hal-hal yang merugikan kalau sedang tersinggung atau marah.

Tilikan:
Pada umumnya pasien mania mengalami gangguan tilikan. Mereka mudah melanggar hukum, pelanggaran dibidang seksual dan keuangan, kadang-kadang mereka menyebabkan kebangkrutan ekonomi keluarga.

Reliabilitas:
Pasien mania sering berbohong ketika memberikan informasi, karena berdusta dan menipu adalah biasa untuk mereka.
 

DIAGNOSIS
Biasanya telah berlangsung menahun, afek yang hiperthym, banyak bicara (logorhoe), gerak gerik motorik yang aktif, flight of ideas, kurang tidur, agresif dan boros.
 
PERJALANAN PENYAKIT
Biasanya berlangsung menahun, kumat-kumatan. Pasien biasanya kumat oleh karena hal-hal yang tidak berarti yang menyinggung hatinya. Sekitar 30 % mengalami kemerosotan fungsinya sebagai manusia.
 
TERAPI
  1. Dirawat (bila perlu)
  2. Kejang listrik (ECT)
  3. Psikofarmaka
    1. Lithium
    2. Divalproex
    3. Olanzapine
    4. Clonazepam
    5. Lorazepam
    6. Haloperidol
  4. Psikososial
    • terapi keluarga
    • terapi interpersonal
    • terapi tingkah laku
    • therapeutic community
    • kurangi jumlah dan berat stressor
Bahan bacaan:
Kaplan & Saddock: Concise textbook of Clinical Psychiatry, second edition, Lippincott William & Wilkins, 2004.
 

CURICULUM VITAE

Nama  : Dr. R. Surya Widya, SpKJ
Tempat/tanggal lahir  : Jakarta, 26 Oktober 1947
Alamat  : Jl. Raya Kelapa Kopyor Blok CE.2, No.10, Jakarta Utara
Status  : Kawin, 1 Puteri + 2 Putera

Pendidikan Formal

  1. Tamat SD ”UMUM” di Jakarta tahun 1960
  2. Tamat SMP ”UMUM” di Jakarta tahun 1963
  3. Tamat SMA Negeri I di Jakarta tahun 1966
  4. Tamat FKUI di Jakarta tahun 1973
  5. Tamat Pendidikan Psikiatri di FKUI di Jakarta tahun 1978

Pendidikan Non Formal

  1. Epidemiologi Psikiatri di Chandigard, India, tahun 1978
  2. Psikiatni Sosialdi Nothngham, UK, tahun 1984

Riwayat Pekerjaan

  1. 1979-1981 : DirektoratKesehatan Jiwa Depkes RI
  2. 1981-1987 : Rumah Sakit Jiwa Magelang di Jawa Tengah
  3. 1987-2007 : Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan di Jakarta

Aktivitas Lain

  1. Dosen Pembimbing Kepaniteraan Psikiatri FK UKI, FK Yarsi & FK Ukrida
  2. Dosen Psikologi STAB Nalanda
  3. Dosen Agama Buddha FK/FKG Usakti
  4. Menulis buku 300 tanya jawab tentang kesehatan jiwa tahun 2006