|
|
|
|
GANGGUAN AFEKTIF
Dr.
R. Surya Widya, SpKJ |
|
|
|
EPISODE DEPRESI |
|
|
|
Biasanya berlangsung paling sedikit 2 minggu lamanya,
memperlihatkan paling sedikit empat dari gejala-gejala
berikut ini, yaitu:
|
- Sedih/murung hampir sepanjang waktu
- Kehilangan minat/gairah hidup
- kehilangan nafsu makan, (penurunan berat badan)
- perubahan pola tidur, (insomnia atau hipersomnia)
- perubahan pola tingkah laku, (serba lamban)
- kekurangan energi, (mudah lelah lesu)
- merasa bersalah/berdosa,
- kesulitan berpikir (susah konsentrasi)
- kesulitan membuat keputusan
- berulang-ulang memikirkan tentang kematian dan ingin bunuh diri.
|
|
ETIOLOGI |
Faktor psikososial : ada teori yang menjelaskan bahwa situasi
stres akan menyebabkan perubahan pada beberapa jenis
neurotransmitter dan pemindaian intraneuronal di otak, yang
selanjutnya menyebabkan kehilangan fungsi neuron tertentu dan
hambatan yang berlebihan pada hubungan dalam synaps.
Menurut catatan yang ada di USA, peristiwa kehidupan yang paling
banyak menyebabkan depresi adalah kehilangan orang tua sebelum
berusia 11 tahun, kemudian kehilangan pasangan hidup, dan
kehilangan pekerjaan.
|
|
GAMBARAN KLINIK |
|
Episode depresi dapat terjadi pada gangguan
depresi dan gangguan mania. Hanya dengan memperhatikan riwayat
penyakit terdahulu dan riwayat keluarga, maka kita baru
dapat membedakannya dengan jelas.
Gejala pokok dan depresi adalah perasaan yang
sedih dan kehilangan interes terhadap segala sesuatu. Pasien
dapat mengungkapkan bahwa mereka merasa murung, tidak ada
harapan, terbuang dan tidak berharga.
Pasien sering mengaku bahwa perasaannya sakit sekali, dan
kadang-kadang sampai tidak bisa menangis.
Hampir 2/3 pasien depresi memikirkan untuk bunuh diri dan hanya 10-15 % yang melakukan percobaan bunuh
diri. Mereka yang dibawah ke rumah sakit karena percobaan bunuh diri akan
lebih berhasil bunuh diri daripada mereka yang belum pernah
dirawat di rumah sakit. Beberapa pasien yang tidak menyadari
bahwa mereka menderita depresi, namun terlihat bahwa mereka
menjauh dari keluarga, temanteman dan aktivitas yang mereka
sukai. Hampir semua pasien (97%) mengeluh bahwa mereka
kekurangan energi, sukar menyelesaikan tugas mereka, prestasi
belajar menurun, prestasi pekerjaan menurun, kurang motivasi
untuk menerima tugas atau proyek baru. Sekitar 80% pasien
depresi mengeluh tentang kesulitan tidur,
terutama suka terbangun diri hari atau sering terbangun di malam
hari, ketika mereka sedang merenungkan tentang masalah mereka.
Banyak pasien depresi kehilangan nafsu makan dan kehilangan
berat badan, tetapi ada juga yang mengalami penambahan nafsu
makan dan kenaikan berat badan, juga tidur lebih lama dari
biasanya.
Cemas adalah gejala yang juga dialami oleh 90% pasien depresi. Perubahan dari pola makan dan pola istirahat
dapat menyebabkan timbulnya penyakti lain seperti diabetes,
hipertensi, gangguan sesak napas kronik dan gangguan jantung.
Ada juga yang mengalami gangguan haid dan penurunan
gairah seksual. Masalah seksual kadang-kadang pasien dirujuk
secara keliru kepada penasehat perkawinan dan terapi seksual,
oleh karena dokter yang merujuk gagal mengenali gangguan depresi
yang menjadi landasan dari gangguan seksual tersebut. Dalam
beberapa studi ditemukan bahwa terdapat 84% pasien depresi
mengalami gangguan untuk berkonsentrasi dan 67% mengalami
gangguan dalam berpikir.
Fobia sekolah, kemelekatan pada orang tua boleh jadi merupakan
gejala depresi pada anak. Prestasi akademis yang buruk,
penyalahgunaan zat, tingkah laku antisosial, seks bebas, bolos
sekolah dan kabur dari rumah mungkin merupakan gejala depresi
pada remaja.
Depresi lebih sering dialami oleh orang tua, terutama yang
berhubungan dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah,
kehilangan pasangan hidup, penyakit fisik yang tidak ada harapan
untuk sembuh dan isolasi sosial. Pada umumnya
gangguan depresi pada orang tua tidak terdiagnosis dan tidak
diterapi secara adekuat.
|
| STATUS MENTAL |
- Tampilan umum:
- Retardasi psikomotor
- Agitasi psikomotor
- Tangan seperti meremas-remas
- Mencabuti rambut
- Tubuh membungkuk
- Gerak gerik lamban
- Menghindari kontak mata
- Alam perasaan:
- Murung/sedih
- Menarik diri
- Segala aktivitas berkurang
- Gangguan persepsi:
- Waham
- Dosa, tidak benharga, kejar (serasi afek)
- Halusinasi
- Akustik (yang menyalahkan atau menuduh)
-
Gangguan pikiran:
- Berpikir negatif tentang
kehilangan, rasa bersalah, bunuh diri dan mati
- Bisa terhambat
- Miskin (tidak produktif)
-
Gangguan orientasi:
- Pada umumnya tidak terganggu
-
Gangguan daya ingat:
- 50-75% sulit konsentrasi dan
pelupa
-
Gangguan pengendalian diri:
- 10-15% melakukan percobaan bunuh
diri (suicide)
- Ingin bunuh orang (homicide)
- Kurang motivasi dan kurang energi
untuk melakukan tindakan impulsif
- Hati-hati dengan paradoxical
suicide
-
Tambahan:
- Melebih-lebihkan keburukan atau
kegagalan diri sendiri Mengurangi kebaikan atau keberhasilan diri
sendiri (perlu cross check dari keluarga dekat/kerabat dekat/pendamping.
|
|
PERJALANAN PENYAKIT |
|
Penyakit gangguan depresi yang tidak diobati bisa benlangsung
sampai 6-13 bulan lamanya; apabila diobati bisa berlangsung
sampai 3 bulan. Setelah obat antidepresi dihentikan, tidak
sampai 3 bulan biasanya bisa kumat lagi.
|
|
PROGNOSIS |
|
Pada umumnya gangguan depresi cenderung menjadi gangguan yang
menahun, kumat-kumatan. Rata-rata 25 % pasien
kumat dalam waktu 6 bulan setelah keluar dan perawatan di rumah
sakit jiwa. Yang tidak sembuh-sembuh biasanya berlanjut menjadi
pasien dengan gangguan disthymic.
|
|
TERAPI |
|
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan |
- keselamatan pasien harus
didahulukan
- diagnosis harus ditegakkan
dengan benar
- rencana terapi tidak hanya
menghilangkan gejala, juga memperhatikan aspek pemulihan kedepan
|
|
Perawatan di rumah sakit :
indikasi rawat adalah untuk penegakkan diagnosis, menghindarkan
resiko bunuh diri atau bunuh orang dan untuk mengatasi perawatan
diri yang terabaikan |
- Terapi psikososial:
- Terapi kognitif
- Terapi interpersonal
- Terapi tingkah laku
- PsikoTerapi
- Terapi keluarga
-
Terapi obat:
- Antidepresi (trisiklik, tetnasiklik, MAO-A inhibitor, SSRI dll)
- Lithium carbonate
- Boleh ditambahkan obat anticemas apabila diperlukan
- Boleh diberikan obat antipsikosis apabila ada gejala psikotik
-
ECT:
Alasan:
- obat-obatan kurang efektif
- pasien tidak bisa menenima obat-obatan
- kesembuhan segena dengan alasan klinis
|
|
|
EPISODE MANIA |
|
|
|
Biasanya paling sedikit belangsung selama satu minggu, afeknya
meningkat, lebih gembira, mudah tersinggung atau membumbung
tinggi. Ditambah dengan : |
- rasa percaya harga diri yang meningkat
(merasa hebat/megalomania)
- kebutuhan akan tidur berkurang
- lebih banyak bicara
- flight of ideas (loncat gagasan)
- agitasi psikomotor, ingin segera memenuhi keinginannya
- boros, banyak belanja, banyak telepon
- perhatian mudah beralih
- banyak melakukan hal-hal yang menghibur (menari, menyanyi dll)
- banyak melakukan transaksi tanpa perhitungan
masak yang merugikan
|
|
Pasien mania yang tidak dirawat seringkali minum
alkohol secara berlebihan, pasien sukar dicegah untuk
menggunakan telepon secara berlebihan (interiokal di pagi hari).
Mereka juga suka berjudi secara patologik, buka baju di tempat
umum, mengenakan baju atau perhiasan yang warnanya sangat
mencolok, juga suka mengabaikan hal-hal kecil seperti tidak
meletakkan gagang telepon secara benar ditempatnya. Pasien suka
terlibat secara berlebihan dengan masalah keagamaan, politik,
keuangan, seksual dan ide pengejaran yang berkembang dalam
sistem waham yang kompleks. Terkadang
mereka juga bisa regresi seperti bermain dengan urine dan feces
sendiri.
|
| GAMBARAN KLINIK |
Tampilan umum :
bersemangat, banyak bicara, melawak, hiperaktif.
Ada kalanya mereka memperlihatkan gejala psikotik dan bingung
sehingga perlu difiksasi dan diberikan suntikan antipsikotik.
Alam perasaan, emosi :
perasaannya hiperthym, mudah tersinggung,
tidak mudah frustrasi, mudah marah dan menyerang. Emosinya tidak
stabil, bisa cepat berubah dan gembira ke depresi dalam beberapa
menit saja.
Cara bicara:
bicaranya sukar dipotong, bombastis, volumenya keras,
bermain dengan kata-kata, bercanda, berpantun, dan tidak relevan.
Selanjutnya bisa terjadi loncat gagasan, asosiasi menjadi longgar, konsentrasi berkurang, bisa inkoheren dan neologisme
sehingga sukar dibedakan dengan pasien skizofrenia.
Gangguan persepsi:
75
% pasien mania mengalami waham, yang biasanya berhubungan dengan kekayaan, kemampuan yang luar biasa, kekuatan atau kehebatan
yang luar biasa. Kadang-kadang ada waham dan halusinasi yang kacau dan tidak
serasi.
Gangguan pikiran:
Pikiran pasien terisi dengan rasa percaya diri
yang berlebihan, merasa hebat. Mereka mudah teralihkan
perhatiannya, sangat produktif dan tidak terkendalikan.
Gangguan sensorium dan fungsi kognitif:
Ada
sedikit gangguan pada fungsi sensonum dan kognitif, terkadang
jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan meskipun tidak ada
gangguan orientasi dan daya ingat.
Gangguan pengendalian diri:
Sekitar 75 % pasien mania suka mengancam dan
menyerang. Ada juga yang melakukan homicide dan suicide. Mereka
sukar menahan diri yang tidak melakukan hal-hal yang merugikan
kalau sedang tersinggung atau marah.
Tilikan:
Pada umumnya pasien mania mengalami gangguan
tilikan. Mereka mudah melanggar hukum, pelanggaran dibidang
seksual dan keuangan, kadang-kadang mereka menyebabkan
kebangkrutan ekonomi keluarga.
Reliabilitas:
Pasien mania sering berbohong ketika memberikan
informasi, karena berdusta dan menipu adalah biasa untuk mereka.
|
|
DIAGNOSIS
|
Biasanya telah berlangsung menahun, afek yang hiperthym, banyak
bicara (logorhoe),
gerak gerik motorik yang aktif, flight of ideas, kurang tidur,
agresif dan boros.
|
|
PERJALANAN PENYAKIT |
Biasanya berlangsung menahun, kumat-kumatan.
Pasien biasanya kumat oleh karena hal-hal yang tidak berarti
yang menyinggung hatinya. Sekitar 30 % mengalami
kemerosotan fungsinya sebagai manusia.
|
|
TERAPI |
- Dirawat (bila perlu)
- Kejang listrik (ECT)
- Psikofarmaka
- Lithium
- Divalproex
- Olanzapine
- Clonazepam
- Lorazepam
- Haloperidol
- Psikososial
- terapi keluarga
- terapi interpersonal
- terapi tingkah laku
- therapeutic community
- kurangi jumlah dan berat stressor
|
Bahan bacaan:
Kaplan & Saddock: Concise textbook of Clinical
Psychiatry, second edition, Lippincott William & Wilkins, 2004. |
| |
|
CURICULUM VITAE |
|
|
| Nama
: |
Dr. R. Surya Widya, SpKJ |
| Tempat/tanggal lahir
: |
Jakarta, 26 Oktober 1947 |
|
Alamat : |
Jl. Raya
Kelapa Kopyor Blok CE.2, No.10, Jakarta Utara |
|
Status : |
Kawin, 1
Puteri + 2 Putera |
|
|
Pendidikan Formal |
|
- Tamat SD ”UMUM” di Jakarta tahun 1960
- Tamat SMP ”UMUM” di Jakarta tahun 1963
- Tamat SMA Negeri I di Jakarta tahun 1966
- Tamat FKUI di Jakarta tahun 1973
- Tamat Pendidikan Psikiatri di FKUI di Jakarta tahun 1978
|
|
Pendidikan Non Formal |
|
- Epidemiologi Psikiatri di Chandigard, India, tahun 1978
- Psikiatni Sosialdi Nothngham, UK, tahun 1984
|
|
|
Riwayat Pekerjaan |
|
- 1979-1981 : DirektoratKesehatan Jiwa Depkes RI
- 1981-1987 : Rumah Sakit Jiwa Magelang di Jawa Tengah
- 1987-2007 : Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan di Jakarta
|
|
Aktivitas Lain |
|
- Dosen Pembimbing Kepaniteraan Psikiatri FK UKI, FK Yarsi & FK Ukrida
- Dosen Psikologi STAB Nalanda
- Dosen Agama Buddha FK/FKG Usakti
- Menulis buku 300 tanya jawab tentang kesehatan jiwa tahun 2006
|
|