|
|
|
|
TATALAKSANA DIAGNOSIS DAN TERAPI
GANGGUAN ANXIETAS
Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.KJ |
|
|
| |
|
Sensasi
anxietas / cemas sering dialami oleh hampir semua manusia.
Perasaan tersebut ditandai oleh rasa ketakutan yang difius,
tidak menyenangkan, seringkali disertai oleh gejala otonomik,
seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, gelisah, dan
sebagainya. Kumpulan gejala
tertentu yang ditemui selama kecemasan cenderung bervaniasi,
pada setiap orang tidak sama.
Dalam praktek
sehari-hani anxietas sering dikenal dengan istilah perasaan
cemas, perasaan bingung, was-was, bimbang dan sebagainya, dimana
istilah tersebut lebih merujuk pada kondisi normal. Sedangkan gangguan anxietas merujuk pada kondisi patologik.
Anxietas sendiri mempunyai rentang yang luas dan normal sampai level yang moderat
misalnya
pertandingan sepak bola, ujian, wawancara untuk masuk kerja
mempunyai tingkat anxietas yang berbeda.
Anxietas sendiri dapat sebagai
gejala saja yang terdapat pada gangguan psikiatrik, dapat
sebagai sindroma pada neurosis cemas dan dapat juga sebagai
kondisi normal.
Anxietas normal sebenarnya
sesuatu hal yang sehat, karena merupakan tanda bahaya tentang
keadaan jiwa dan tubuh manusia supaya dapat mempertahankan diri
dan anxietas juga dapat bersifat konstruktif, misalnya seorang
pelajar yang akan menghadapi ujian, merasa cemas, maka ia akan
belajar secara giat supaya kecemasannya dapat berkurang.
Anxietas dapat bersifat akut
atau kronik. Pada anxietas akut serangan datang mendadak dan
cepat menghilang. Anxietas kronik biasanya berlalu untuk jangka
waktu lama walaupun tidak seintensif anxietas akut, pengalaman
penderitaan dari gejala cemas ini oleh pasien biasanya dirasakan
cukup gawat untuk mempenganuhi prestasi kerjanya.
Bila dilihat dan segi
jumlah, maka orang yang menderita anxietas kronik jauh lebih
banyak daripada anxietas akut.
|
|
DIFINISI ANXIETAS
|
“Anxietas adalah perasaan yang
difius, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan
kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai
dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang
akan datang berulang bagi seseorang tertentu. Perasaan ini dapat
berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar,
keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau
buang air besan. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah. “ ( Harold I.
LIEF)
“Anenvous condition of unrest”
( Leland E. HINSIE dan Robert S CAMBELL)
“Anxietas adalah perasaan tidak
senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau
frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa aman,
keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok
biososialnya.” ( J.J GROEN)
|
|
GEJALA
UMUM ANXIETAS
|
|
Gejala psikologik:
Ketegangan,
kekuatiran, panik, perasaan tak nyata, takut mati , takut ”gila”,
takut
kehilangan kontrol dan sebagainya.
Gejala
fisik:
Gemetar, berkeringat, jantung
berdebar, kepala terasa ringan, pusing, ketegangan otot, mual, sulit
bernafas, baal, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan di lambung dan
lain-lain.
Keluhan yang dikemukakan pasien
dengan anxietas kronik seperti: rasa sesak nafas; rasa sakit dada;
kadang-kadang merasa harus menarik nafas dalam; ada sesuatu yang
menekan dada; jantung berdebar; mual; vertigo; tremor; kaki dan
tangan merasa kesemutan; kaki dan tangan tidak dapat diam ada
perasaan harus bergerak terus menerus; kaki merasa lemah, sehingga
berjalan dirasakan beret; kadang- kadang ada gagap dan banyak lagi
keluhan yang tidak spesifik untuk penyakit tertentu. Keluhan yang
dikemukakan disini tidak semua terdapat pada pasien dengan gangguan
anxietas kronik, melainkan seseorang dapat saja mengalami hanya
beberapa gejala 1 keluhan saja. Tetapi pengalaman penderitaan dan
gejata ini oleh pasien yang bersangkutan biasanya dirasakan cukup
gawat.
|
|
GANGGUAN ANXIETAS
|
|
Beberapa teori tentang gangguan
anxietas:
|
- TEORI PSIKOLOGIS
- Teori Psikoanalitik
- Teori perilaku
- Teori Eksistensial
- TEORI BIOLOGIS
- Susunan Saraf Otonom
- Neurotransmiten
- Penelitian genetika
- Penelitian Pencitraan Otak
|
Teori psikoanalitik:
Freud menyatakan bahwa kecemasan
sebagai sinyal, kecemasan menyadarkan ego untuk mengambil tindakan
defensif terhadap tekanan dari dalam diri. misal dengan menggunakan
mekanisme represi, bila berhasil maka terjadi pemulihan keseimbangan
psikologis tanpa adanya gejala anxietas. Jika
represi tidak berhasil sebagai suatu pertahanan, maka dipakai
mekanisme pertahanan yang lain misalnya konvensi, regresi, ini
menimbulkan gejala.
Teori perilaku:
teori perilaku menyatakan bahwa
kecemasan adalah suatu respon yang dibiasakan terhadap stimuli
lingkungan spesifik. Contoh : seorang dapat belajar untuk
memiliki respon kecemasan internal dengan meniru respon
kecemasan orang tuanya.
Teori eksistensial:
Konsep dan teori ini adalah,
bahwa seseorang menjadi menyadari adanya kehampaan yang menonjol
di dalam dirinya. Perasaan ini lebih mengganggu daripada penerimaan
tentang kenyataan kehilangan/ kematian seseorang yang tidak
dapat dihindari. Kecemasan adalah respon seseorang terhadap
kehampaan eksistensi tersebut.
Sistem saraf otonom:
Stimuli sistem saraf otonom
menyebabkan gejala tertentu. Sistem kardiovaskular takikardi,
muskular nyeri kepala, gastrointestinal diare dan sebagainya.
Neurotransmiter:
Tiga neurotrasmiter utama yang
berhubungan dengan kecemasan berdasarkan penelitian pada
binatang dan respon terhadap terapi obat yaitu : norepinefrin,
serotonin dan gamma-aminobutyric acid.
Penelitian genetika:
Penelitian ini mendapatkan,
hampir separuh dan semua pasien dengan gangguan panik memiliki
sekurangnya satu sanak saudara yang juga menderita gangguan.
Penelitian pencitraan otak:
Contoh: pada
gangguan anxietas didapati kelainan di korteks frontalis,
oksipital, temporalis. Pada gangguan panik didapati
kelainan pada girus para hipokampus.
|
|
BENTUK GANGGUAN ANXIETAS |
- Gangguan Panik
- Gangguan Fobik
- Gangguan
Obsesif-kompulsif
- Gangguan Stres Pasca
Trauma
- Gangguan stres Akut
- Gangguan Anxietas
Menyeluruh.
|
|
GANGGUAN PANIK
|
- Ada dua kriterla Gangguan
panik : gangguan panik tanpa agorafobia dan gangguan panik
dengan agorofobia kedua gangguan panik ini harus ada serangan
panik.
|
|
GAMBARAN KLINIS
|
|
Serangan panik pertama
seringkali spontan, tanpa tanda mau serangan panik, walaupun
serangan panik kadang-kadang terjadi setelah luapan kegembiraan,
kelelahan fisik, aktivitas seksual atau trauma emosional.
Klinisi harus berusaha untuk mengetahui tiap kebiasaan atau
situasi yang sering mendahului serangan panik. Serangan sering
dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama
10 menit. Gejala mental utama adalah ketakutan
yang kuat, suatu perasaan ancaman kematian dan kiamat. Pasien
biasanya tidak mampu menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien
mungkin merasa kebingungan dan mengalami kesulitan dalam
memusatkan perhatian. Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi,
sesak nafas dan berkeringat. Pasien seringkali mencoba untuk
mencari bantuan. Serangan biasanya berlangsung 20 sampai 30
menit. Agorafobma
: pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi dimana ia
akan sulit mendapatkan bantuan. Pasien mungkin memaksa bahwa
mereka harus ditemani setiap kali mereka keluar rumah.
|
|
GEJALA PENYERTA |
|
Gejala depresi seringkali
ditemukan pada serangan panik dan agorafobia, pada beberapa
pasien suatu gangguan depresi ditemukan bersama-sama dengan
gangguan panik. Penelitian telah menemukan bahwa resiko bunuh
diri selama hidup pada orang dengan gangguan panik adalah lebih
tinggi dibandingkan pada orang tanpa gangguan mental.
|
|
DIAGNOSA BANDING
|
Penyakit kardiovaskuler :
anemia, hipertensi, infark iniokardium, dsb.
Penyakit pulmonum :
asma, hiperventilasi, emboli paru-paru.
Penyakit neurologis :
penyakit serebrovaskular, epilepsi, inigrain, tumor, dsb.
Penyakit endokrin : diabetes, hipertroidisme, hipoglikemi,
sindroma pramestruasi, gangguan menopause, dsb.
lntoksikasi
obat, putus obat.
Kondisi lain : anafilaksis, gangguan
elektrolit, keracunan logam berat, uremia dsb
|
|
PEDOMAN DIAGNOSTIK AGORAFOBIA
|
- Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi dimana
kemungkinan sulit meloloskan diri
- Situasi dihindari,
misal
jarang bepergian
- Kecemasan atau
penghindaran fobik bukan karena gangguan mental lain, misal
fobia sosial
|
|
PEDOMAN DIAGNOSTIK GANGGUAN PANIK
|
- Serangan panik rekuren
dan tidak diharapkan
- Sekurangnya satu serangan
, diikuti satu atau lebih : kekawatiran menetap akan mengalami
serangan tambahan, ketakutan tentang arti serangan, perubahan
perilaku bermakna berhubungan dengan serangan
- Serangan panik bukan
karena efek fisiologis langsung atau suatu kondisi medis umum
- Serangan panik tidak
lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain. misal gangguan
obsesif - kompulsif.
- Gangguan panik bisa
dengan agorafobia atau tanpa agorafobia
|
|
TERAPI |
Konseling dan medikasi.
Konseling: ajari pasien untuk
diam ditempat sampai serangan panik berlalu, konsentrasikan diri
untuk mengatasi anxietas bukan pada gejala fisik, rileks, latihan
pernafasan. Identifikasikan rasa takut selama serangan.
Diskusikan cara menghadapi rasa takut saya tidak mengalami
serangan jantung, hanya panik, akan berlalu.
Medikasi : banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak membutuhkan
medikasi. Bila serangan sering dan berat, atau secara bermakna
dalam keadaan depresi beri antidepresan (imipramin 25 mg malam
hari, dosis bisa sampai 100 150 mg malam selama 2 minggu ). Bila
serangan jarang dan terbatas beri anti anxietas, jangka pendek
(lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1)
hindari pemberian jangka panjang dan pemberian medikasi yang tidak
perlu.
|
|
GANGGUAN FOBIK
|
Penelitian
epidemiologis di Amerika Serikat menemukan 5 10 persen populasi
menderita gangguan ini. FOBIA adalah
suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan
penghindaran yang disadari terhadap obyek, aktivitas, atau
situasi yang ditakuti.
Fobia spesifik: takut terhadap
binatang, badai, ketinggian, penyakit, cedera, dsb
Fobia sosial: takut terhadap
rasa memalukan di dalam berbagai lingkungan sosial seperti
berbicara di depan umum, dsb
|
|
PEDOMAN DIAGNOSTIK
|
- Rasa takut yang jelas,
menetap dan berlebihan atau tidak beralasan (obyek /situasi)
- Pemaparan dengan stimulus
fobik hampir selalu mencetuskan kecemasan
- Menyadari bahwa rasa
takut adalah berlebihan
- Situasi fobik dihindari
|
|
TERAPI
|
|
Konseling dan medikasi: dorong
pasien untuk dapat mengatur pernafasan, membuat daftar situasi
yang ditakuti atau dihindari, diskusikan cara-cara menghadapi
rasa takut tersebut. Dengan konseling banyak pasien tidak
membutuhkan medikasi. Bila ada depresi bisa diberi antidepresan
lmipramin 50 150 mg/ hari. Bila ada anxietas beri antianxietas
dalam waktu singkat, karena bisa menimbulkan ketergantungan.
Beta blokerdapat mengurangi gejala fisik. Konsultasi spesialistik
bila rasa takut menetap
|
|
GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF
|
|
Prevalensi seumur hidup
gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum diperkirakan
adalah 2-3 persen.
OBSESIF adalah pikiran,
perasaan, ide yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak
dikehendaki.
KOMPULSIF adalah tingkah-laku yang berulang, tidak
bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
|
|
PEDOMAN DIAGNOSIS |
= Pikiran, impuls, yang
berulang
= Perilaku yang berulang
= Menyadari bahwa
obsesif-kompulsif adalah berlebihan atau tidak beralasan
= Obsesif-kompulsif menyebabkan penderitaan
= Tidak disebabkan oleh
suatu zat atau kondisi medis umum.
|
|
DIAGNISIS BANDING |
Kondisi fisik
- Gangguan
neurologis (epilepsi lobul temporalis, komplikasi trauma, dsb)
Kondisi psikiatrik
- Skizofrenia,
gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, fobia, gangguan depresif.
|
|
TERAPI
|
|
Konseling dan medikasi :
mengenali, menghadapi, menantang pikiran yang berulang dapat
mengurangi gejala obsesd, yang pada akhirnya mengurangi perilaku
kompulsif. Latihan pernafasan. Bicarakan apa yang akan dilakukan
pasien untuk mengatasi situasi, kenali dari perkuat hal yang
berhasil mengatasi situasi. Bila diperlukan bisa diberi
Klomipramin 100 - 150 mg, atau golongan Selected Serotonin
Reuptake Inhibitors.
Konsultasi
spesialistik bila kondisi tidak berkurang atau menetap.
|
|
GANGGUAN STRES PASCA-TRAUMA |
|
Pasien dapat diklasifikasikan
mendenta gangguan stres pasca-trauma, bila mereka mengalami
suatu stres yang akan bersifat traumatik bagi hampir semua
orang. Trauma bisa berupa trauma peperangan, bencana alam,
penyerangan, pemerkosaan, kecelakaan.
Gangguan stres-pasca trauma
terdiri dari: - pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan
pikiran, penghindaran yang persisten oleh penderita terhadap
trauma dan penumpulan responsivitas pada penderita tersebut,
kesadaran berlebihan dan persisten. Gejala penyerta yang sering
dan gangguan stres pasca-trauma adalah depresi, kecemasan dan
kesulitan kognitif(contoh pemusatan perhatian yang buruk)
Prevalensi seumur hidup
gangguan stres pasaca-trauma diperkirakan I sampai 3 persen
populasi umum, 5 sampai 15 persen mengalami bentuk gangguan yang
subklinis. Walaupun gangguan stres pasca-trauma dapat terjadi
pada setiap usia, namun gangguan paling menonjol pada usia
dewasa muda.
|
|
PEDOMAN DIAGNOSTIK STRES
PASCATRAUMA |
- Telah terpapar dengan
peristiwa traumatik, didapati:
- mengalami,
menyaksikan, dihadapkan dengan peristiwa yang berupa ancaman
kematian, atau kematian yang sesungguhanya atau cedera yang
serius,atau ancaman integritas fisik diri sendiri atau orang lain
- respon
berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya
- Keadan traumatik secara
menetap dialami kembali dalam satu atau lebih cara berikut:
- rekoleksi yang menderitakan, rekuren dan mengganggu tentang
kejadian
- Mimpi menakutkan yang berulang tentang
kejadian
- berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian
traumatik terjadi kembali
- penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar
dengan tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau
menyerupai suatu aspek kejadian traumatik
- reaktivitas psikologis saat terpapar dengan
tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai
aspek kejadian traumatik
- Penghindaran stimulus yang
persisten yang berhubungan dengan trauma
- Gejala
menetap, adanya peningkatan kesadaran , seperti dua atau lebih
berikut:
kesulitan
tidur, irritabilitas, sulit konsentrasi, kewaspadaan berlebihan,
respon kejut
yang
berlebihan.
- Lama gangguan gejala B,C,D adalah lebih dari satu bulan.
- Gangguan menyebabkan
penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
|
|
REAKSI STRES AKUT |
|
Suatu gangguan sementara yang
cukup parah yang terjadi pada seseorang tanpa adanya gangguan
jiwa lain yang nyata, sebagai respons terhadap stres fisik
maupun mental yang luar biasa dan biasanya menghilang dalam
beberapa jam atau hari. Stresornya dapat berupa pengalaman
traumatik yang luar biasa . Kerentanan individu dan kemampuan
menyesuaikan diri memegang peranan dalam terjadinya dan
keparahannya suatu reaksi stres akut.
|
|
PEDOMAN DIAGNOSTIK |
|
Harus ada kaitan waktu yang
langsung dan jelas antara terjadinya pengalaman stresor luar
biasa dengan onset dan gejala. Onset biasanya setelah beberapa
menit atau bahkan segera setelah kejadian. Selain itu ditemukan
(a) terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya
berubah-ubah; selain gejala permulaan berupa keadaan “ terpaku”
, semua gejala berikut mungkin tampak: depresif, anxietas,
kemarahan, kekecewaan, overaktif dan penarikan diri, akan tetapi
tidak satupun dan jenis gejala tersebut yang mendominasi
gambaran klinisnya untuk waktu lama. (b) pada kasus-kasus yang
dapat dialihkan dan stresomya, gejala-gejalanya dapat menghilang
dengan cepat (dalam beberapa jam); dalam hal dimana stres
tidak dapat dialihkan, gejala-gejala biasanya baru mulai mereda
setelah 24 - 48 jam dan biasanya menghilang setelah 3 hari.
|
|
GANGGUAN ANXIETAS MENYELURUH |
|
Gambaran esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang menyeluruh dan menetap (bertahan
lama), Gejala yang dominant sangat bervariasi, tetapi keluhan
tegang yang berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot,
berkeringat, kepala terasa ringan, palpitasi, pusing kepala dan
keluhan epigastnik adalah keluhankeluhan yang lazim dijumpai.
Ketakutan bahwa dirinya atau anggota keluarganya akan menderita
sakit atau akan mengalami kecelakaan dalam waktu dekat,
merupakan keluhan yang seringkali diungkapkan
|
|
PEDOMAN DIAGNOSTIK |
|
Pasien harus menunjukan gejala
primer anxietas yang berlangsung hampir setiap hari selama
beberapa minggu, bahkan biasanya sampai beberapa bulan.
Gejala-gejala ini biasanya mencakup hal-hal berikut : kecemasan
tentang masa depan, ketegangan motorik, overaktivitas otonomik
|
|
TERAPI |
Konseling dan medikasi:
informasikan bahwa stres dan rasa khawatir keduanya mempunyai
efek fisik dan mental. Mempelajari keterampilan untuk mengurangi
dampak stres merupakan pertolongan yang paling efektif.
Mengenali, menghadapi dan menantang kekhawatiran yang berlebihan
dapat mengurangi gejala anxietas. Kenali kekhawatiran yang
berlebihan atau pikiran yang pesimistik. Latihan fisik yang
teratur sering menolong. Medikasi merupakan terapi sekunder, tapi
dapat digunakan jika dengan konseling gejala menetap. Medikasi
anxietas : misal Diazepam 5 mg malam hari, tidak lebih dari 2
minggu, Beta bloker dapat membantu mengobati gejala fisik,
antidepresan bila ada depresi. Konsultasi
spesialistik bila anxietas berat dan berlangsung lebih dan 3
bulan.
|
|
GANGGUAN CAMPURAN ANXIETAS DAN
DEPRESI |
Kategori campuran ini harus digunakan bilamana terdapat gejala anxietas maupun depresi, di
mana masing-masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup
berat untuk menegakkan diaognosis tersendiri.
|
|
| |
|
BAHAN
BACAAN |
- American Psychiatric Association, Diagnostic Creteria, DSM -IV - TR,
2005 : 209 -223
- Departemen Kesehatan R.l. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di
Indonesia III, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik 1993: 171 -195.
- Departemen Kesehatan R.l. Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat ,
Direktorat
Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat: Gangguan Anxietas.
- Sadock
BJ, Sadock VA: Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry 10 th.ed.
Lippincott
Williams & Wilkins, 2007:579- 633.
- Setyonegoro KR, IskandarY : Anxietas. Yayasan Drama Usada, Yakarta,
1980:2-4.
- Stahl
SM: Essential Psychopharmacology Neuroscientific Basis and Practical
Applications 2nd ed Cambridge University Press . 2002 : 300
|
|
|
|
CURICULUM VITAE |
|
|
| Nama
: |
Dr. Evalina Asnawi, Sp.KJ |
| Telepon
: |
(021) 7328321, HP.:
08128378757
|
|
|
Riwayat Jabatan Peqawai Negeri
Sipil RI
|
|
- 1980 : Dokter Umum FK UNSRI Palembang
- 1980 - 1985 : Ka UPF
Rawat Jalan RS Sei Kundur
- 1980 - 1985 : Dokter di RS Kusta Sungai
Kundur MUBA Sumatera Selatan
- 1985 - 1989 : Pendidikan Spesialis Kedokteran Jiwa di FK USU Medan
- 1989 - 1995 : Anggota Staf Medik Spesialis Kedokteran Jiwa RS Jiwa
Medan
- 1993 - 1995 : Ka UPF
Gangguan Mental Organik RS Jiwa Medan
- 1995 - Sekarang : Anggota
Staf Medik Spesialis Kedokteran Jiwa RS Jiwa
Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta
- 1998 - 1999 : Ka UPF
Keswa Anak dan Remaja RSJ Dr. Soeharto
Heerdjan Jakarta
- 2002 - 2006 : Ka UPF
Rawat Jalan RSJ Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta
- 2002 - Sekarang : Ka Diklat
RS. Jiwa dr Soeharto Heerdjan Jakarta
- 2006 - 2007 : Ketua
Komite Medik RSJ Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta
|
|
Riwayat Profesi |
|
- 1990- 1995 : Dosen
Pembimbing Kepaniteraan Klinik Psikiatni FK UISU
Medan, FK Methodist Medan di
RSJ Medan
- 1998 - Sekarang : Dosen
Pembimbing Kepaniteraan Klinik Psikiatri FK UKI
Jakarta, FK Ukrida Jakarta, FK
Yarsi Jakarta, di RSJ dr Soeharto Heerdjan, Jakarta
- 2000 - Sekarang : Dosen llmu
Kedokteran Jiwa (honorer) FK ATMAJAYA
Jakarta
- 2002 - Sekarang : Dosen Ilmu
Kedokteran Jiwa (honorer) FK UKI Jkt & FK
UKRIDA Jakarta
- 2004 - Sekarang : Master Trainer Nasional VCT HIV/AIDS
|
|
|
Riwayat Organisasi |
|
- 1980 - Sekarang : Anggota lkatan Dokter Indonesia
- 1989 - Sekanang : Anggota
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa
Indonesia
|
|