|
|
|
|
GEJALA, LATAR BELAKANG
PERMASALAHAN DAN KEBUTUHAN ANAK
DENGAN GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN
HIPERAKTVITAS
(GPPH) DAN GANGGUAN SPEKTRUM AUTISTIK
Dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K)
Psikiater Anak dan Remaja |
|
|
|
Pendahuluan |
|
GPPH dan gangguan spektrum
autistik merupakan dua buah kasus yang cukup sering ditemukan
dalam praktik sehari-hari. Walaupun berbeda dalam gejala dan
perjalanan penyakitnya, namun ke dua gangguan ini termasuk dalam
gangguan perkembangan.
Sejak bayi dilahirkan, ia sudah
berhadapan dengan proses belajar yang sangat tergantung pada
tingkat perkembangan yang telah dicapainya, yang akan menentukan
kemampuan yang ada dalam dirinya. Hal ini akan berjalan terus
sampai anak masuk sekolah dan mengikuti proses pembelajaran
formal yang ada. Saat inilah, anak akan dirangsang untuk
mengembangkan rasa cinta akan belajar, kebiasaankebiasaan
belajar yang baik dan rasa percaya diri sebagai pelajar yang
sukses. Namun tidak semua hal di atas selalu berjalan dengan
lancar dan mulus, apalagi pada anak dengan GPPH dan gangguan
spektrum autistik yang mengalami berbagai permasalahan dalam
mengontrol perilaku dan emosinya.
|
|
1. Tinjauan singkat dan
Gangguan Pemusatan Perhatian dan/Hiperaktivitas (GPPH) |
|
Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah
anak yang menunjukkan perilaku hiperaktif, impulsif serta sulit
memusatkan perhatian dengan tingkat yang lebih beratjika
dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya.
Di samping itu,
kondisi di
atas juga
disertai
dengan beberapa gejala lain seperti adanya ambang toleransi
frustrasi yang rendah, disorganisasi, dan perilaku agresif.
Kondisi ini tentunya menimbulkan penderitaan dan hambatan bagi
anak dalam menjalankan fungsinya sehari-hari,
seperti berinteraksi dengan teman sebaya,
keluarga dan yang terpenting adalah mengganggu kesiapan anak
untuk belajar. Semua kondisi ini tentunya akan mengganggu
prestasi belajar anak dan secara keseluruhan akan membuat
penurunan kualitas hidup anak dengan GPPH di
kemudian hari.
Dalam berbagai
penelitian epidemiologi yang telah dilakukan, didapatkan angka
rata-rata prevalensi berkisar antara 3-11%.
Angka prevalensi untuk GPPH di
Jakarta Pusat adalah 4.2 %. Berdasarkan penelitian Saputro D
(2004) dengan menggunakan instrumen Diagnostic and Statistical
Manual for Mental Disorder IV (DSM-IV) didapati angka sebesar 2.2
% untuk tipe hiperaktif & impulsif, 5.3% untuk tipe campuran
hiperaktif-impulsif dan inatensi, serta 15.3 % untuk GPPH tipe
inatensi. Walaupun demikian jumlah kasus yang datang untuk
mencari pengobatan umumnya masih sangat rendah oleh karena
pengetahuan dan kepedulian orang tua, guru dan masyarakat
sekitar masih sangat rendah
|
|
1.1. Kriteria Diagnostik |
|
Untuk membuat diganosis maka dibutuhkan data perilaku dan respons emosi
anak baik di rumah maupun di sekolah. Untuk keperluan ini maka dilakukan
wawancara psikiatrik dengan berbagai sumber seperti orang tua,
guru dan pengasuh serta kelompok teman sebayanya atau saudara
kandung. Disamping itu juga dilakukan observasi serta wawancara
psikiatrik langsung pada anak, sehingga didapatkan data yang
akurat untuk membuat diagnosis. Sampai saat ini diagnosis dibuat
berdasarkan kriteria dan DSMIV.
|
|
Berdasarkan DSM IV
maka kriteria diagnostik GPPH adalah sebagai berikut; |
- Salah satu dari (1) atau (2):
-
Terdapat minimal enam
(atau lebih) gejala-gejala inatensi berikut yang menetap dan
telah berlangsung sekurangkurangnya 6 (enam) bulan sampai ke
tingkat yang maladatif dan tidak sesuai dengan
tingkat perkembangan anak;
-
Sering gagal untuk memberikan
perhatian yang baik terhadap hal-hal yang rinci atau sering
melakukan kesalahan yang tidak seharusnya/ceroboh terhadap
pekerjaan sekolah, pekerjaan lain atau aktivitas-aktivitas
lainnya
-
Seringkali mengalami
kesulitan untuk mempertahankan perhatian dalam melakukan tugas
tanggung jawabnya atau dalam kegiatan bermain
-
Seringkali tampak tidak
mendengarkan (acuh) pada waktu diajak berbicara
-
Seringkali tidak mampu
mengikuti aturan atau instruksi dan gagal dalam menyelesaikan
tugas-tugas sekolah, kegiatan sehari-hari atau pekerjaan di tempat
kerja (tidak disebabkan oleh karena Gangguan Perilaku Menentang
atau kesulitan untuk memahami instruksi)
-
Seringkali mengalami
kesulitan dalam mengorganisasikan tugas tanggung jawabnya atau
aktivitas-aktivitasnya
-
Seringkali menghindar, tidak
suka atau menolak dalam kegiatan-kegiatan yang
memerlukan konsentrasi yang lama seperti dalam mengerjakan
tugas-tugas sekolah
-
Seringkali kehilangan
barang-barang yang perlu digunakan untuk kegiatan-kegiatan atau
aktivitas-aktivitasnya (seperti mainan, pekerjaan sekolah,
pensil, buku-buku, atau peralatan-peralatan lainnya)
-
Mudah teralih perhatiannya
oleh stimulus yang datang dari luar
-
Mudah lupa akan kegiatan
yang dilakukan sehari-hari
-
Terdapat minimal enam (atau
lebih) gejala-gejala hiperaktivtasimpulsivitas beriikut yang
menetap dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 6 (enam)
bulan sampai ke tingkat yang maladatif dan tidak sesuai dengan
tingkat perkembangan anak:
Hiperaktivitas
-
Seringkali tidak bisa duduk
diam atau kaki-tangannya bergerak-gerak terus dengan gelisah
-
Seringkali tidak mampu
duduk diam di kursinya di dalam kelas atau pada situasi dimana
anak diharapkan duduk diam
-
Seringkali berlari-lari atau
memanjat-manjat secara berlebihan pada situasi-situasi yang
tidak sesuai atau pada situasi-situasi yang tidak seharusnya
(misalnya pada remaja atau orang dewasa, mungkin dibatasi oleh
perasaan kegelisahan yang subjektif)
-
Seringkati mengalami
kesulitan dalam bermain atau dalam kegiatan menyenangkan
bersama yang memerlukan ketenangan
-
Seringkali ‘bergerak’ atau
sepertinya ‘digerakkan oleh mesin’
-
Seringkali berbicara
berlebihan
Impulsivitas
-
Seringkali memberikan jawaban sebelum
pertanyaan selesai diajukan
-
Seringkali mengalami kesulitan dalam
menunggu giliran
-
Seringkali menginterupsi atau
mengintrusi orang lain (misalnya dalam
bermain atau berbicara dengan orang di
sekitarnya)
-
Beberapa gejala-gejala
hiperaktif-impulsif atau inatensi yang menyebabkan gangguan ini sudah timbul sebelum
anak berusia 7 tahun
-
Gejala-gejala yang
menyebabkan gangguan ini terjadi minimal pada 2
(dua) situasi/ tempat yang berbeda (misalnya di sekolah atau
tempat kerja dan di rumah)
-
Ada bukti yang jelas bahwa
gejala-gejala ini menimbulkan gangguan klinis yang signifikan di
bidang sosial, akademik dan fungsi pekerjaan lainnya
-
Gejala-gejala tidak timbul
secara eksklusif selama perjalanan penyakit Gangguan
Perkembangan Pervasif, Skizofrenia, atau Gangguan Psikotik
lainnya dan tidak dapat dijelaskan oleh gangguan mental lainnya
(seperti gangguam mood, gangguan cemas, gangguan disosiatif,
atau gangguan kepribadian)
|
|
1.2. Permasalahan |
-
Anak dengan GPPH seringkali
mengalami kesulitan dalam memenuhi berbagai tugas dan tanggung
jawabnya oleh karena adanya disfungsi pada aspek monitoring,
persepsi, memon dan kontrol motonknya. Banyak teon yang berusaha
untuk menjelaskan hal
mi dengan berbagai
kelemahan dan kekuatannya, namun hampir semuanya setuju bahwa
fokus kelainan pada GPPH adalah bersumber pada kompleksitas dan
dimensi fungsi kognitif anak, sehingga dapat dikatakan sebagai gangguan dengan
adanya defisit dalam fungsi metakognisi anak. Dengan demikian,
anak dengan GPPH seringkali menunjukkan adanya defisit dalam
proses perencanaan, monitor dan regulasi perilaku. Oleh karena
itu, led Virginia Douglas menyatakan bahwa GPPH merupakan
gangguan negulasi din dengan dampak yang pervasif pada fungsi
anak sehari-hari.
-
Dan sudut pandang lain dikatakan
bahwa, anak dengan GPPH menunjukkan adanya
defisit dan responsterhadap kontrol motorik, defisit pada
pemenuhan gerakan motorik halus, dan defisit dalam proses
inhibisi terhadap pola respons perilaku yang sedang dilakukan.
Hal ini dikaitkan
dengan adanya inhibisi perilaku yang kurang aktif dan gangguan
pada proses sistim pengembalian perilaku (behavioraireward
system) pada anak dengan GPPH. Dengan demikian, anak dengan
GPPH senngkali menunjukkan masalah dalam berbagai tugas yang
memerlukan konsentrasi yang optimal dan akurasi serta
aturan-aturan tententu. Hal ini tentunya
juga akan berkaitan dengan sikap motivasi yang rendah serta
masalah dalam sistim regulasi diri.
-
Akibat yang
terjadi adalah anak dengan GPPH seringkali mengalami kesulitan
dalam berbagai aspek kehidupannya seperti kesulitan belajar,
kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya serta lingkungannya.
Semua ini tentunya
akan menurunkan kualitas hidup anak baik saat ini maupun di
kemudian hari
|
|
1.3. Tatalaksana |
National Intistute of Mental
Heaflh, dan juga
organisasi professional lainnya di dunia seperti AACAP (American
Academy of Child and Adolescent Psychiatry) sepakat bahwa
penatalaksanaan anak dengan GPPH membutuhkan pendekatan yang
multimodal, yang mencakup pemberian obat-obatan, terapi perilaku,
serta pemberian edukasi pada orang tua dan guru. Berdasarkan
pengalaman, hal di atas tampaknya sesuai dengan kenyataan yang
ditemui dalam praktik sehari-hari. Walaupun sudah tersedia beberapa
obat pilihan untuk anak dengan GPPH yang cukup baik seperti
metilfenidat dengan mekanisme kerja jangka panjang maupun OROS (Osmotic Release Oral System) yang mempunyai efektivitas
sekitar 12 jam. Namun orang tua, guru maupun anak dengan GPPH
ternyata juga memerlukan beberapa pendekatan penatalaksanaan
lainnya.
|
|
2. Tinjauan Singkat dan
Gangguan Spektrum Autistik |
Merupakan salah satu jenis
gangguan perkembangan pada anak yang kompleks dan berat
(termasuk dalam gangguan perkembangan pervasif). Biasanya gejala
sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Gejala utama meliputi
beberapa gangguan perkembangan dalam bidang; komunikasi,
interaksi resiprokal dan adanya perilaku yang terbatas atau
perilaku stereotipik lainnya.
|
|
Angka kejadian; |
-
Victor Lotter (1966), prevalensi
diperkirakan sekitar 0.2-0.4 per mil. Namun saat
ini prevalensi
diperkirakan sekitar 1.5-2.0 per mil.
- Ratio antara anak alaki-laki
dan perempuan sekitar 2.6-4: 1
- Tidak ada perbedaan yang
jelas dan antara ras, etnik, tingkat sosial ekonomi dan
pendidikan dalam terjadinya Gangguan Spektrum Autistik.
|
| Study, Year |
Country
|
Size of target
Population |
Criteria |
Prevalence Rate
(Per 10.000) |
| Lotter, 1966 |
UK |
78 ribu |
Kanner |
4.5 |
| Wing et al, 1976 |
UK |
25 ribu |
Kanner |
4.8 |
| Hoshino et al, 1984 |
Japan |
610 ribu |
Kanner |
2.3 |
| Gillberg et al, 1984 |
Sweden |
128 ribu |
DSM II |
4 |
| Bryson et al, 1988 |
Canada |
20 ribu |
DSM III R |
10.1 |
| Sugiyama, Abe, '89 |
Japan |
12 ribu |
DSM III |
13 |
| Gillberg et al, 1991 |
Sweden |
78 ribu |
DSM III R |
9.5 |
| Fombonne et al, '97 |
France |
32 ribu |
ICD X |
5.3 |
|
|
2.1. Kriteria Diagnostik |
|
2.2. Permasalahan |
|
Anak dengan gangguan spektrum
autistik mempunyai gambaran yang unik mengenai diri dan
lingkunganya. Hal ini merupakan satu
permasalahan yang serius dan memerlukan penanganan yang serius
oleh karena akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan
anak selanjutnya. Beberapa kecenderungan yang dapat diamati
seperti; |
-
Selektif berlebihan terhadap
rangsang yang datang dan sekitarnya sehingga anak mengalami
kemampuan yang terbatas dalam menangkap stimulus tersebut.
-
Kurangnya motivasi, hal
ini tidak hanya
disebabkan oleh karena mereka mengisolasikan dirinya serta asyik
dengan dunianya sendiri, tetapi merekajuga cenderung tidak
mempunyai motivasi untuk mengenal dunia di luar dirinya sendiri.
Kondisi ini membuat anak dengan
gangguan spektrum autistik tidak mapu atau kurang mau
menjelajahi lingkungan baru.
-
Adanya perilaku stimulasi
diri yang merupakan suatu perilaku yang tidak produktif dan akan
mengganggu interaksi sosial, juga mengganggu proses belajar
-
Respons terhadap imbalan yang
unik dan bersifat individualistik dan seringkali sulit
diidentifikasi
-
Adanya perilaku yang
berlebihan seperti tantrum dan perilaku stimulasi diri, agresivitas, serta melukai diri sendiri,
-
Adanya perilaku
berkekurangan seperti tidak mau berbicara, tidak mau
berinteraksi sosial dengan lingkungan sosialnya, defisit dan
sistem indera, fungsi keterampilan motonk yang buruk
|
|
2.3. Tatalaksana |
|
Bersifat komprehensif dan harus
dilakukan sediri mungkin segera setelah diagnosis ditegakkan.
Keberhasilan tatalaksana tergantung dari; |
- Berat ringannya gejala
- Diagnosis dini dan
tatalaksana dini akan memberikan keberhasilan yang lebih baik
- Kecerdasan anak, makin
cerdas anak maka kemampuan untuk menangkap pelajaran yang
diberikan akan bertambah baik dan cepat
- Tingkat kemampuan berbicara
dan berbahasa
- Intensitas dan terapi
|
|
Berbagai jenis terapi yang
umumnya dijalankan secara terpadu ialah; |
|
|
|
Tujuan pemberian terapi adalah; |
- Mengurangi, mengubah perilaku
yg tak dikehendaki
- Meningkatkan kemampuan anak
untuk: belajar
(berbahasa),
berkomunikasi, kemampuan bantu dii dan fungsi sosial lainnya
|
|
Rujukan |
- Furman RA.
Attention deficit/hyperactivity disorder: An
alternative viewpoint. J Int
Child Adolesc Psychiatry 2002;2:1 25-144.
- Tanjung IS. Prevalensi
Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) pada
murid sekolah dasar kelas I-III di wilayah Jakarta Pusat.
Departemen Psikiatri FKUI/RSCM. 2002 (tesis)
- Saputro D. Gangguan Hiperkinetik
Pada Anak Di DKI Jakarta, Penyusunan lnstrumen baru, Penentuan
Prevalensi, Penelitian Patifisologi dan Upaya Terapi. Desertasi
Untuk Memperoleh Derajat Doktor dalam Iimu Kedokteran pada
Universitas Gajah Mada. 2004
- Wiguna T. Parental perception
and attitude toward their primary school age children’s
hyperactivity problems. Mean Jour of Psychiatry 2006(7);1 :14-17
- American
Psychiatric Association: Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorder, Fourth
Edition, Text Revision. Washington DC, American
Psychiatric Association, 2000
- Waslick B, Greehill LL.
Attention-deficit/hyperactive disorder. In Jerry M Wiener and Mina
K. Dulcan, textbook of child and adolescent psychiatry, third
addition. 2004. American psychiatric publishing, Inc. p.485-509
- Siegel B. The
world of the autistic child. Oxford University
Press, New York, 1996
- Vokmar F, KIm A. Pervasive
developmental disorders, in Comprehensive textbook of psychiatry, 7’
eds (eds BJ Sadock, VA Sadock) Philadelphia-SA, 2000, p2659-2678
|
|
|
|
|
CURICULUM VITAE |
|
|
| Nama
: |
Tjhin Wiguna |
|
Usia
: |
43 tahun |
|
|
Pekerjaan saat ini |
|
- Staf medik Departemen
Psikiatri FKUI/RSCM
- Konsultan kesehatan jiwa
anak pada beberapa Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah Pertama dan Sekolah MenengahAtas di
Jakarta
|
|
Latar belakang
pendidikan |
|
- Lulus menjadi psikiater pada tahun
1998 dari FKUI
- Lulus menjadi psikiater anak dan remaja pada
tahun 2002 dan FKUI
- Lulus dan program Master of
international Mental Health dari University of Melbourne, Australia pada tahun 2004 Saat ini merupakan anggota IDI
cabang Jakarta dan PDSKJI
|
|