SIMPOSIUM SEHARI KESEHATAN JIWA DALAM RANGKA MENYAMBUT HARI KESEHATAN JIWA SEDUNIA

  Penyelenggara :
IKATAN DOKTER INDONESIA CABANG JAKARTA BARAT

Bekerjasama dengan :
FK UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
FK UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
FK UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

27 OKTOBER 2007
HOTEL RED TOP, JAKARTA

GEJALA, LATAR BELAKANG PERMASALAHAN DAN KEBUTUHAN ANAK
DENGAN GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTVITAS
(GPPH) DAN GANGGUAN SPEKTRUM AUTISTIK 
Dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K)
Psikiater Anak dan Remaja

Pendahuluan

GPPH dan gangguan spektrum autistik merupakan dua buah kasus yang cukup sering ditemukan dalam praktik sehari-hari. Walaupun berbeda dalam gejala dan perjalanan penyakitnya, namun ke dua gangguan ini termasuk dalam gangguan perkembangan.

Sejak bayi dilahirkan, ia sudah berhadapan dengan proses belajar yang sangat tergantung pada tingkat perkembangan yang telah dicapainya, yang akan menentukan kemampuan yang ada dalam dirinya. Hal ini akan berjalan terus sampai anak masuk sekolah dan mengikuti proses pembelajaran formal yang ada. Saat inilah, anak akan dirangsang untuk mengembangkan rasa cinta akan belajar, kebiasaan­kebiasaan belajar yang baik dan rasa percaya diri sebagai pelajar yang sukses. Namun tidak semua hal di atas selalu berjalan dengan lancar dan mulus, apalagi pada anak dengan GPPH dan gangguan spektrum autistik yang mengalami berbagai permasalahan dalam mengontrol perilaku dan emosinya.
 

1. Tinjauan singkat dan Gangguan Pemusatan Perhatian dan/Hiperaktivitas (GPPH)

Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah anak yang menunjukkan perilaku hiperaktif, impulsif serta sulit memusatkan perhatian dengan tingkat yang lebih beratjika dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Di samping itu, kondisi di atas juga disertai dengan beberapa gejala lain seperti adanya ambang toleransi frustrasi yang rendah, disorganisasi, dan perilaku agresif. Kondisi ini tentunya menimbulkan penderitaan dan hambatan bagi anak dalam menjalankan fungsinya sehari-hari, seperti berinteraksi dengan teman sebaya, keluarga dan yang terpenting adalah mengganggu kesiapan anak untuk belajar. Semua kondisi ini tentunya akan mengganggu prestasi belajar anak dan secara keseluruhan akan membuat penurunan kualitas hidup anak dengan GPPH di kemudian hari.

Dalam berbagai penelitian epidemiologi yang telah dilakukan, didapatkan angka rata-rata prevalensi berkisar antara 3-11%. Angka prevalensi untuk GPPH di Jakarta Pusat adalah 4.2 %. Berdasarkan penelitian Saputro D (2004) dengan menggunakan instrumen Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder IV (DSM-IV) didapati angka sebesar 2.2 % untuk tipe hiperaktif & impulsif, 5.3% untuk tipe campuran hiperaktif-impulsif dan inatensi, serta 15.3 % untuk GPPH tipe inatensi. Walaupun demikian jumlah kasus yang datang untuk mencari pengobatan umumnya masih sangat rendah oleh karena pengetahuan dan kepedulian orang tua, guru dan masyarakat sekitar masih sangat rendah
 

1.1.  Kriteria Diagnostik

Untuk membuat diganosis maka dibutuhkan data perilaku dan respons emosi anak baik di rumah maupun di sekolah. Untuk keperluan ini maka dilakukan wawancara psikiatrik dengan berbagai sumber seperti orang tua, guru dan pengasuh serta kelompok teman sebayanya atau saudara kandung. Disamping itu juga dilakukan observasi serta wawancara psikiatrik langsung pada anak, sehingga didapatkan data yang akurat untuk membuat diagnosis. Sampai saat ini diagnosis dibuat berdasarkan kriteria dan DSM­IV.
 

Berdasarkan DSM IV maka kriteria diagnostik GPPH adalah sebagai berikut;
  1. Salah satu dari (1) atau (2):
    1. Terdapat minimal enam (atau lebih) gejala-gejala inatensi berikut yang menetap dan telah berlangsung sekurang­kurangnya 6 (enam) bulan sampai ke tingkat yang maladatif dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak;

      1. Sering gagal untuk memberikan perhatian yang baik terhadap hal-hal yang rinci atau sering melakukan kesalahan yang tidak seharusnya/ceroboh terhadap pekerjaan sekolah, pekerjaan lain atau aktivitas-aktivitas lainnya

      2. Seringkali mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian dalam melakukan tugas tanggung jawabnya atau dalam kegiatan bermain

      3. Seringkali tampak tidak mendengarkan (acuh) pada waktu diajak berbicara

      4. Seringkali tidak mampu mengikuti aturan atau instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah, kegiatan sehari-hari atau pekerjaan di tempat kerja (tidak disebabkan oleh karena Gangguan Perilaku Menentang atau kesulitan untuk memahami instruksi)

      5. Seringkali mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan tugas tanggung jawabnya atau aktivitas-aktivitasnya

      6. Seringkali menghindar, tidak suka atau menolak dalam kegiatan-kegiatan yang memerlukan konsentrasi yang lama seperti dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah

      7. Seringkali kehilangan barang-barang yang perlu digunakan untuk kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitasnya (seperti mainan, pekerjaan sekolah, pensil, buku-buku, atau peralatan-peralatan lainnya)

      8. Mudah teralih perhatiannya oleh stimulus yang datang dari luar

      9. Mudah lupa akan kegiatan yang dilakukan sehari-hari

    2. Terdapat minimal enam (atau lebih) gejala-gejala hiperaktivtas­impulsivitas beriikut yang menetap dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sampai ke tingkat yang maladatif dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak:
      Hiperaktivitas

      1. Seringkali tidak bisa duduk diam atau kaki-tangannya bergerak-gerak terus dengan gelisah

      2. Seringkali tidak mampu duduk diam di kursinya di dalam kelas atau pada situasi dimana anak diharapkan duduk diam

      3. Seringkali berlari-lari atau memanjat-manjat secara berlebihan pada situasi-situasi yang tidak sesuai atau pada situasi-situasi yang tidak seharusnya (misalnya pada remaja atau orang dewasa, mungkin dibatasi oleh perasaan kegelisahan yang subjektif)

      4. Seringkati mengalami kesulitan dalam bermain atau dalam kegiatan menyenangkan bersama yang memerlukan ketenangan

      5. Seringkali ‘bergerak’ atau sepertinya ‘digerakkan oleh mesin’

      6. Seringkali berbicara berlebihan

        Impulsivitas

      1. Seringkali memberikan jawaban sebelum pertanyaan selesai diajukan

      2. Seringkali mengalami kesulitan dalam menunggu giliran

      3. Seringkali menginterupsi atau mengintrusi orang lain (misalnya dalam bermain atau berbicara dengan orang di sekitarnya)

  2. Beberapa gejala-gejala hiperaktif-impulsif atau inatensi yang menyebabkan gangguan ini sudah timbul sebelum anak berusia 7 tahun

  3. Gejala-gejala yang menyebabkan gangguan ini terjadi minimal pada 2 (dua) situasi/ tempat yang berbeda (misalnya di sekolah atau tempat kerja dan di rumah)

  4. Ada bukti yang jelas bahwa gejala-gejala ini menimbulkan gangguan klinis yang signifikan di bidang sosial, akademik dan fungsi pekerjaan lainnya

  5. Gejala-gejala tidak timbul secara eksklusif selama perjalanan penyakit Gangguan Perkembangan Pervasif, Skizofrenia, atau Gangguan Psikotik lainnya dan tidak dapat dijelaskan oleh gangguan mental lainnya (seperti gangguam mood, gangguan cemas, gangguan disosiatif, atau gangguan kepribadian)

1.2.  Permasalahan
  • Anak dengan GPPH seringkali mengalami kesulitan dalam memenuhi berbagai tugas dan tanggung jawabnya oleh karena adanya disfungsi pada aspek monitoring, persepsi, memon dan kontrol motonknya. Banyak teon yang berusaha untuk menjelaskan hal mi dengan berbagai kelemahan dan kekuatannya, namun hampir semuanya setuju bahwa fokus kelainan pada GPPH adalah bersumber pada kompleksitas dan dimensi fungsi kognitif anak, sehingga dapat dikatakan sebagai gangguan dengan adanya defisit dalam fungsi metakognisi anak. Dengan demikian, anak dengan GPPH seringkali menunjukkan adanya defisit dalam proses perencanaan, monitor dan regulasi perilaku. Oleh karena itu, led Virginia Douglas menyatakan bahwa GPPH merupakan gangguan negulasi din dengan dampak yang pervasif pada fungsi anak sehari-hari.

  • Dan sudut pandang lain dikatakan bahwa, anak dengan GPPH menunjukkan adanya defisit dan responsterhadap kontrol motorik, defisit pada pemenuhan gerakan motorik halus, dan defisit dalam proses inhibisi terhadap pola respons perilaku yang sedang dilakukan. Hal ini dikaitkan dengan adanya inhibisi perilaku yang kurang aktif dan gangguan pada proses sistim pengembalian perilaku (behavioraireward system) pada anak dengan GPPH. Dengan demikian, anak dengan GPPH senngkali menunjukkan masalah dalam berbagai tugas yang memerlukan konsentrasi yang optimal dan akurasi serta aturan-aturan tententu. Hal ini tentunya juga akan berkaitan dengan sikap motivasi yang rendah serta masalah dalam sistim regulasi diri.

  • Akibat yang terjadi adalah anak dengan GPPH seringkali mengalami kesulitan dalam berbagai aspek kehidupannya seperti kesulitan belajar, kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya serta lingkungannya. Semua ini tentunya akan menurunkan kualitas hidup anak baik saat ini maupun di kemudian hari

1.3.  Tatalaksana
National Intistute of Mental Heaflh, dan juga organisasi professional lainnya di dunia seperti AACAP (American Academy of Child and Adolescent Psychiatry) sepakat bahwa penatalaksanaan anak dengan GPPH membutuhkan pendekatan yang multimodal, yang mencakup pemberian obat-obatan, terapi perilaku, serta pemberian edukasi pada orang tua dan guru. Berdasarkan pengalaman, hal di atas tampaknya sesuai dengan kenyataan yang ditemui dalam praktik sehari-hari. Walaupun sudah tersedia beberapa obat pilihan untuk anak dengan GPPH yang cukup baik seperti metilfenidat dengan mekanisme kerja jangka panjang maupun OROS (Osmotic Release Oral System) yang mempunyai efektivitas sekitar 12 jam. Namun orang tua, guru maupun anak dengan GPPH ternyata juga memerlukan beberapa pendekatan penatalaksanaan lainnya.
  
2.  Tinjauan Singkat dan Gangguan Spektrum Autistik
Merupakan salah satu jenis gangguan perkembangan pada anak yang kompleks dan berat (termasuk dalam gangguan perkembangan pervasif). Biasanya gejala sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Gejala utama meliputi beberapa gangguan perkembangan dalam bidang; komunikasi, interaksi resiprokal dan adanya perilaku yang terbatas atau perilaku stereotipik lainnya.
 
Angka kejadian;
  • Victor Lotter (1966), prevalensi diperkirakan sekitar 0.2-0.4 per mil. Namun saat ini prevalensi diperkirakan sekitar 1.5-2.0 per mil.
  • Ratio antara anak alaki-laki dan perempuan sekitar 2.6-4: 1
  • Tidak ada perbedaan yang jelas dan antara ras, etnik, tingkat sosial ekonomi dan pendidikan dalam terjadinya Gangguan Spektrum Autistik.
Study, Year Country Size of target
 Population
Criteria Prevalence Rate
(Per 10.000)
Lotter, 1966 UK 78 ribu Kanner 4.5
Wing et al, 1976 UK 25 ribu Kanner 4.8
Hoshino et al, 1984 Japan 610 ribu Kanner 2.3
Gillberg et al, 1984 Sweden 128 ribu DSM II 4
Bryson et al, 1988 Canada 20 ribu DSM III R 10.1
Sugiyama, Abe, '89 Japan 12 ribu DSM III 13
Gillberg et al, 1991 Sweden 78 ribu DSM III R 9.5
Fombonne et al, '97 France 32 ribu ICD X 5.3
2.1.   Kriteria Diagnostik
2.2.   Permasalahan

Anak dengan gangguan spektrum autistik mempunyai gambaran yang unik mengenai diri dan lingkunganya. Hal ini merupakan satu permasalahan yang serius dan memerlukan penanganan yang serius oleh karena akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak selanjutnya. Beberapa kecenderungan yang dapat diamati seperti;

  1. Selektif berlebihan terhadap rangsang yang datang dan sekitarnya sehingga anak mengalami kemampuan yang terbatas dalam menangkap stimulus tersebut.

  2. Kurangnya motivasi, hal ini tidak hanya disebabkan oleh karena mereka mengisolasikan dirinya serta asyik dengan dunianya sendiri, tetapi merekajuga cenderung tidak mempunyai motivasi untuk mengenal dunia di luar dirinya sendiri. Kondisi ini membuat anak dengan gangguan spektrum autistik tidak mapu atau kurang mau menjelajahi lingkungan baru.

  3. Adanya perilaku stimulasi diri yang merupakan suatu perilaku yang tidak produktif dan akan mengganggu interaksi sosial, juga mengganggu proses belajar

  4. Respons terhadap imbalan yang unik dan bersifat individualistik dan seringkali sulit diidentifikasi

  5. Adanya perilaku yang berlebihan seperti tantrum dan perilaku stimulasi diri, agresivitas, serta melukai diri sendiri,

  6. Adanya perilaku berkekurangan seperti tidak mau berbicara, tidak mau berinteraksi sosial dengan lingkungan sosialnya, defisit dan sistem indera, fungsi keterampilan motonk yang buruk

2.3.  Tatalaksana
Bersifat komprehensif dan harus dilakukan sediri mungkin segera setelah diagnosis ditegakkan. Keberhasilan tatalaksana tergantung dari;
  1. Berat ringannya gejala
  2. Diagnosis dini dan tatalaksana dini akan memberikan keberhasilan yang lebih baik
  3. Kecerdasan anak, makin cerdas anak maka kemampuan untuk menangkap pelajaran yang diberikan akan bertambah baik dan cepat
  4. Tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa
  5. Intensitas dan terapi
Berbagai jenis terapi yang umumnya dijalankan secara terpadu ialah;
  • Terapi medikamentosa
  • Terapi wicara (Speech-language Therapy)
  • Terapi perilaku
  • Terapi okupasi

  • Terapi integrasi sensorik

  • Terapi Orthopaedagogik

  • Auditory integration training (AlT)

  • Terapi kelompok

  • Diet CFGF

  • dll

Tujuan pemberian terapi adalah;
  • Mengurangi, mengubah perilaku yg tak dikehendaki
  • Meningkatkan kemampuan anak untuk: belajar
    (berbahasa), berkomunikasi, kemampuan bantu dii dan fungsi sosial lainnya
Rujukan
  1. Furman RA. Attention deficit/hyperactivity disorder: An alternative viewpoint. J Int Child Adolesc Psychiatry 2002;2:1 25-144.
  2. Tanjung IS. Prevalensi Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) pada murid sekolah dasar kelas I-III di wilayah Jakarta Pusat. Departemen Psikiatri FKUI/RSCM. 2002 (tesis)
  3. Saputro D. Gangguan Hiperkinetik Pada Anak Di DKI Jakarta, Penyusunan lnstrumen baru, Penentuan Prevalensi, Penelitian Patifisologi dan Upaya Terapi. Desertasi Untuk Memperoleh Derajat Doktor dalam Iimu Kedokteran pada Universitas Gajah Mada. 2004
  4. Wiguna T. Parental perception and attitude toward their primary school age children’s hyperactivity problems. Mean Jour of Psychiatry 2006(7);1 :14-17
  5. American Psychiatric Association: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, Fourth Edition, Text Revision. Washington DC, American Psychiatric Association, 2000
  6. Waslick B, Greehill LL. Attention-deficit/hyperactive disorder. In Jerry M Wiener and Mina K. Dulcan, textbook of child and adolescent psychiatry, third addition. 2004. American psychiatric publishing, Inc. p.485-509
  7. Siegel B. The world of the autistic child. Oxford University Press, New York, 1996
  8. Vokmar F, KIm A. Pervasive developmental disorders, in Comprehensive textbook of psychiatry, 7’ eds (eds BJ Sadock, VA Sadock) Philadelphia-SA, 2000, p2659-2678
 

CURICULUM VITAE

Nama  : Tjhin Wiguna
Usia  : 43 tahun

Pekerjaan saat ini

  • Staf medik Departemen Psikiatri FKUI/RSCM
  • Konsultan kesehatan jiwa anak pada beberapa Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah MenengahAtas di Jakarta

Latar belakang pendidikan

  • Lulus menjadi psikiater pada tahun 1998 dari FKUI
  • Lulus menjadi psikiater anak dan remaja pada tahun 2002 dan FKUI
  • Lulus dan program Master of international Mental Health dari University of Melbourne, Australia pada tahun 2004  Saat ini merupakan anggota IDI cabang Jakarta dan PDSKJI