- Akhir-akhir ini banyak kasus kekerasan, bunuh diri, kawin cerai, tawuran, pembunuhan, ibu
membunuh anak-anaknya, Cucu membunuh kakek, pemerkosaan, penculikan anak, penggunaan NARKOBA, kecelakaan lalu lintas baik darat, udara, laut, korupsi, bencana alam seperti : tsunami,
gempa bumi, tanah longsor, tayangan TV, smack down, dan sebagainya. Kejadian - kejadian ini ada kaitannya dengan masalah
kesehatan jiwa dan gangguan jiwa, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.
- Penelitian mengenai gangguan jiwa yang pernah dilakukan oleh para psikiater dari Direktorat Kesehatan Jiwa, Dirjen
Yanmed, Depkes, di Puskesmas Kecamatan Tambora, lebih dari 20 tahun yang lalu didapatkan bahwa prevalensi gangguan jiwadi Puskesmas adalah sekitar 30%,
berarti dari setiap 10 orang yang berobat ke Puskesmas ada 3 orang yang mempunyai masalah kejiwaan.
- Demikian pula pasien-pasien yang berobat ke praktik umum sedikitnya 10% pasien yang berobat
mempunyai masalah kejiwaan dibalik keluhan fisiknya.
- Fakta lainnya adalah orang lebih senang dikatakan sakit saraf daripada sakit jiwa. Sakit
Jiwa masih merupakan stigma dalam masyarakat. Penderita gangguan jiwa lebih sering dibawa ke dukun atau “orang pintar”.
- Sering kali penderita gangguan jiwa terlambat diterapi karena kurang kepekaan dokter
dalam mendeteksinya, sehingga banyak biaya yang telah dikeluarkan pasien untuk pemeriksaan-pemeriksaan penunjang dan
pengobatan yang kurang tepat.
- Dokter umum sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan adalah yang pertama menerima pasien
baru, kepada dokter umum ini perlu ditingkatkan kemampuan dan ketrampilannya dalam melakukan deteksi dini dari penatalaksanaan
terapi masalah dan gangguan jiwa yang ditemuinya dalam praktek sehari-hari, sehingga pasien mendapat pelayanan medik yang
optimal dan tepat.
|