SIMPOSIUM SEHARI KESEHATAN JIWA DALAM RANGKA MENYAMBUT HARI KESEHATAN JIWA SEDUNIA

  Penyelenggara :
IKATAN DOKTER INDONESIA CABANG JAKARTA BARAT

Bekerjasama dengan :
FK UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
FK UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
FK UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

27 OKTOBER 2007
HOTEL RED TOP, JAKARTA

KEDARURATAN PSIKIATRI DAN TATALAKSANA
Dr. Oely Mardi Santoso, SpKJ

KEDARURATAN PSIKIATRI

Adalah tiap gangguan pada pikiran, perasaan dan tindakan seseorang yang memerlukan intervensi terapeutik segera.

Diantara berbagai macam gangguan tersebut yang paling sering adalah SUICIDE (BUNUH DIRI) dan VIOLENCE AND ASSAULTIVE BEHAWOR (PERILAKU KEKERASAN DAN MENYERANG).
  

BUNUH DIRI

Di Amerika tiap tahun kasus bunuh diri yang berhasil mencapai 30.000 orang per tahun. Angka ini menunujukkan jumlah orang yang mencoba bunuh diri jauh lebih besar lagi, diperkirakan 8 sampai 10 kali lebih besar dan jumlah tersebut. Di Indonesia belum ada data mengenai hal ini.

Dan data yang ada, 95% kasus bunuh diri berkaitan dengan masalah kesehatan jiwa diantaranya 80% mengalami Depresi, 10% Skizofrenia dan 5% Dementia/Delirium. Sedangkan sekitar 25% lainnya mempunyai diagnosa ganda yang berkaitan dengan Ketergantungan Alkohol.

Menurut Adam.K mereka yang mempunyai resikotinggi untuk terjadinya bunuh diri adalah pria, usia diatas 45 tahun, tidak bekerja, bercerai atau ditinggal mati pasangan hidupnya, mempunyai nwayat keluarga yang bermasalah, mempunyai penyakit fisik kronis, mempunyai gangguan kesehatn jiwa, tidak mempunyai hubungan keluarga yang baik, miskin dalam hubungan sosial atau cenderung mengisolasi diri

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menduga adanya resiko bunuh diri:
  • adanya ide bunuh diri atau percobaan bunuh diri sebelumnya
  • adanya kecemasan yang tinggi, depresi yang dalam dan kelelahan
  • adanya ide bunuh diri yang diucapkan<
  • ketersediaannya alat atau cara untuk bunuh diri
  • memepersiapkan warisan terutama pada pasien depresi yang agitatif
  • adanya krisis dalam kehidupan baik fisik maupun mental
  • adanya riwayat keluarga yang melakukan bunuh diri
  • adanya kecemasan terhadap keluarga jika terjadi bunuh diri
  • adanya keputus-asaan yang mendalam

Didalam menangani pasien yang mempunyai kecenderungan bunuh diri, pencegahan merupakan hal utama yang perlu diperhatikan.

Jika percobaan bunuh diri telah dilakukan dan tidak berhasil , sebagai klinisi kita harus melakukan pemeriksaan yang menyeluruh dan lengkap baik secara fisik dan mental. Pada saat itu juga harus diputuskan apakah pasien perlu dirawatatau tidak.

Hospitalisasi tergantung:
  • Diagnosis
  • Beratnya Depresi
  • Kuatnya ide bunuh diri
  • Kemampuan pasien dan keluarga mengatasi masalahnya
  • Keadaan kehidupan pasien
  • Tersedianya support sosial bagi pasien
  • Ada tidaknya faktor resiko bunuh diri pada saat kejadian

Yang bisa dilakukan DOKTER KELUARGA /UMUM jika menjumpai pasien dengan percobaan bunuh diri sebaiknya lakukan pertolongan pertama jika diperlukan, rujuk pasien ke rumah sakit terdekat sambil membenkan penjelasan ke keluarganya bahwa kondisi pasien perlu evaluasi dan pertolongan lebih jauh baik fisik maupun mentalnya (tergantung kondisi pasien).
  

PERILAKU KEKERASAN DAN MENYERANG
Pada keadaan seperti ini yang paling utama kita harus bisa menentukan apakah karena gangguan fisik ataukah karena masalah mental. Untuk masalah mentalnya bisa disebabkan oleh:
  • Gangguan proses pikir misal Skizofrenia
  • Gangguan Manik/Episode Manik
  • Depresi Agitatif/Episode Depresi
  • Gangguan Cemas
  • Reaksi Ekstra Piramidal
Gambaran diatas tidak selalu mudah untuk bisa langsung diidentifikasi karena bisa terjadi overlaping gejala satu dengan yang lainnya.
Tanda-tanda adanya penilaku kekerasan yang mengancam:
  • Kata-kata keras /kasar atau ancaman akan kekerasa
  • Adanya perilaku agitatif
  • Membawa benda-benda tajam atau senjat
  • Adanya pikiran dan perilaku paranoid
  • Adanya penyalah gunaan zat/intoksikasi alkohol
  • Adanya halusinasi dengar yang memerintahkan untuk melakukan tindak kekerasan.
  • Kegelisahan katatonik
  • Episode Manik
  • Episode DepresiAgitatif
  • Gangguan Kepnibadian tertentu
  • Adanya penyakit di Otak(terutama di lobus frontal)

Untuk menduga kemungkinan terjadinya perilaku kekerasan pada seorang pasien tidak mudah. Namun ada beberapa hal yang bisa menjadi petunjuk untuk diperhatikan, misalnya:

  • Adanya ide-ide kekerasan disertai rencana dan sarana yang tersedia
  • Adanya riwayat kekerasan sebelumnya
  • Adanya riwayat gangguan impuls termasuk penjudi, pemabuk, penyalahgunaan zat psikoaktif,percobaan bunuh diri ataupun melukai diri sendiri, Psikosis.
  • Adanya masalah dalam kehidupan pribadi yang nyata.

Yang bisa dilakukan DOKTER KELUARGA UMUM dalam menghadapai kasus perilaku kekerasan dan menyerang seperti ini adalah rujuk ke Rumah Sakit Jiwa terdekat jika sudah bisa dipastikan bukan disebabkan masalah fisik. Seandainya masih meragukan antara masalah fisik dan mental rujuk ke Rumah Sakit Umum terdekat yang lengkap fasilitasnya. Jika kondisi pasien tidak terlalu berat, masih bisa dilakukan pemeriksaan dengan cukup terang dan cukup kooperatif serta kondisi gangguan flsik bisa disingkirkan , bisa diberikan:

  • Haloperidol oral 0.5 mg/3 x sehari
  • Atau Chlorpromazine oral 25 mg/3x sehari
  • Atau Bensodiasepin oral 5 mg /3 x sehari
  • Tergantung diagnosis pasien.
    Dengan saran secepatnya konsul ke Ahlinya ( Psikiater).

Hal lain yang sangat penting diingat adalah merupakan kontra indikasi memberikan obat antipsikotik pada pasien dengan trauma kepala walaupun menunjukkan gejala gaduh gelisah. Pada keadaan seperti ini secepatnya dinujuk ke Rumah Sakit Umum terdekat yang lengkap fasilitasnya.

Dengan saran secepatnya konsul ke Ahlinya (Psikiater).

 

CURICULUM VITAE

Nama  : dr Oely Mardi Santoso SpKJ
Tempat, Tgl Lahir  : Purwokerto 03-02-1949
Alamat  : JI. Kikir 57/75, Kayuputih, Jakarta Timur
Status  : menikah dengan DR Dr Mardi Santoso DTM & H,SpPD
.KEMD dengan 2 orang anak dan I cucu.

Riwayat Pendidikan

  • Fakultas Kedokteran U.G.M . lulus tahun 1974

  • Psikiater FKUI lulus tahun 1991

  • Mengikuti training course, advisory board dan seminar /kongres di berbagai pertemuan ilmiah Psikiatri di Luar Negeri dan menghadiri berbagai simposium, seminar dan kongres Psikiatri di Dalam Negeri.

Riwayat Pekerjaan

  • 1980 - 1984 : Palang Merah Indonesia Pusat
  • 1984 - 1986 :  Direktorat RS Khusus dan Swasta Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI , Jakarta.
  • 1986 - 1989 : Direktorat Kesehatan Jiwa, DirJen Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
  • 1992 - 2000 : Psikiater di Direktorat Kesehatan Jiwa DirJen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI , Jakarta.
  • 1991 - sekarang : Psikiater RS Omni Medical Center
  • 2001 - sekarang : Dosen tidak tetap Fakultas Kedokteran FK UKRIDA Jakarta.

Riwayat Organisasi

  • Anggota IDI Jakarta Timur
  • Anggota PDSKJI Jakarta