|
|
|
|
SKIZOFRENIA DAN GANGGUAN PSIKOTIK LAINNYA
Luana
N. A.
|
|
|
|
Pendahuluan. |
|
Skizofrenia merupakan gangguan mental yang kompleks dan banyak aspek
tentang skizofrenia sampai saat ini belum dapat dipahami sepenuhnya.
Sebagai suatu sindrom, pendekatan skizofrenia harus dilakukan secara
holistik dengan melibatkan aspek psikososiai, psikodinamik, genetik,
farmakologi, dan lain-lain.
Mengingat kompleksnya gangguan skizofrenia, untuk mendapatkan
hasil terapi yang optimal, klinikus perlu memperhatikan beberapa fase
simptom gangguan skizofrenia, yaitu : fase prodromal, fase aktif dan
fase residual. Hasil akhir yang ingin dicapai adalah penderita
skizofrenia dapat kembali berfungsi dalam bidang pekerjaan, sosial
dan keluarga.
|
|
Skizofrenla |
Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis dengan variasi psikopatologi,
biasanya berat, berlangsung lama dan ditandai oleh penyimpangan dari
pikiran, persepsi serta emosi
|
|
Epidemioiogi |
|
Prevalensi skizofrenia di Amerika Serikat dilaporkan bervariasi
terentang dari 1 sampai 1,5 persen dengan angka insidens 1 per
10.000 orang per tahun. Berdasarkan jenis kelamin prevalensi
skizofrenia adalah sama, perbedaannya terlihat dalam onset dan
perjalanan penyakit. Onset untuk laki laki 15 sampai 25 tahun
sedangkan wanita 25-35 tahun. Prognosisnya adalah lebih buruk pada
laki laki dibandingkan wanita.
Beberapa penelitian menemukan bahwa 80% semua pasien skizofrenia
menderita penyakit fisik dan 50% nya tidak terdiagnosis. Bunuh
diri adalah penyebab umum kematian diantara penderita skizofrenia, 50%
penderita skizofrenia pernah mencoba bunuh diri 1 kali seumur
hidupnya dan 10% berhasil melakukannya.
Faktor
risiko bunuh diri adalah adanya gejala depresif, usia muda dan
tingkat fungsi premorbid yang tinggi.
Komorbiditas Skizofrenia dengan penyalahgunaan
alkohol kira kina 30% sampai 50%, kanabis 15% sampal 25% dan kokain
5%-10%. Sebagian besar penelitian menghubungkan hal ini sebagai suatu
indikator prognosis yang buruk karena penyalahgunaan zat menurunkan
efektivitas dan kepatuhan pengobatan. Hal yang biasa kita
temukan pada penderita skizofrenia adalah adiksi nikotin, dikatakan
3 kali populasi umum (75%-90% vs 25%-30%).
Penderita skizofrenia yang merokok membutuhkan anti psikotik dosis
tinggi karena rokok meningkatkan kecepatan metabolisme obat tetapi
juga menurunkan parkinsonisme. Beberapa laporan mengatakan
skizofrenia lebih banyak dijumpai pada orang orang yang tidak
menikah tetapi penelitian tidak dapat membuktikan bahwa menikah
memberikan proteksi terhadap Skizofrenia.
|
|
Etiologi
|
|
Model diatesis -stress
Menurut teori ini skizofrenia timbul akibat faktor psikososial
dan lingkungan. Model ini berpendapat bahwa seseorang yang
memiliki kerentanan (diatesis) jika dikenai stresor akan lebih
mudah menjadi skizofrenia. |
|
Faktor Biologi
|
Komplikasi kelahiran
Bayi laki laki yang mengalami
komplikasi saat dilahirkan sering mengalami skizofrenia,
hipoksia perinatal akan meningkatkan kerentanan seseorang
terhadap skizofrenia.
Infeksi
Perubahan anatomi pada susunan
syaraf pusat akibat infeksi virus pernah dilaporkan pada orang
orang dengan skizofrenia. Penelitian mengatakan bahwa terpapar
infeksi virus pada trimester kedua kehamilan akan meningkatkan
seseorang menjadi skizofrenia.
Hipotesis Dopamin
Dopamin merupakan neurotransmiter
pertama yang berkontribusi terhadap gejala skizofrenia. Hampir
semua obat antipsikotik baik tipikal maupun antipikal menyekat
reseptor dopamin D2, dengan terhalangnya transmisi sinyal di
sistem dopaminergik maka gejala psikotik diredakan.1°
Berdasarkan pengamatan diatas dikemukakan bahwa gejala gejala
skizofrenia disebabkan oleh hiperaktivitas sistem
dopaminergik.5’7
Hipotesis Serotonin
Gaddum, wooley dan show tahun 1954
mengobservasi efek lysergic acid diethylamide (LSD) yaitu suatu
zat yang bersifat campuran agonis/antagonis reseptor 5-HT.
Temyata zatini menyebabkan keadaan psikosis berat pada orang
normal. Kemungkinan serotonin berperan pada skizofrenia kembali
mengemuka karena penetitian obat antipsikotik atipikal clozapine
yang temyata mempunyai afinitas terhadap reseptor serotonin
5-HT~ lebih tinggi dibandingkan reseptordopamin D2.57
Struktur Otak
Daerah otak yang mendapatkan
banyak perhatian adalah sistem limbik dan ganglia basalis. Otak
pada pendenta skizofrenia terlihat sedikit berbeda dengan orang
normal, ventrikel teilihat melebar, penurunan massa abu abu dan
beberapa area terjadi peningkatan maupun penurunan aktifitas
metabolik. Pemenksaaninikroskopis dan jaringan otak ditemukan
sedikit perubahan dalam distnbusi sel otak yang timbul pada masa
prenatal karena tidak ditemukannya sel glia, biasa timbul pada
trauma otak setelah lahir.81°
|
| |
|
Genetika |
|
Para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa skizofrenia diturunkan,
1% dari populasi umum tetapi 10% pada masyarakat yang mempunyai
hubungan derajat pertama seperti orang tua, kakak laki laki
ataupun perempuan dengan skizofrenia. Masyarakat yang mempunyai
hubungan derajat ke dua seperti paman, bibi, kakek / nenek dan
sepupu dikatakan lebih sering dibandingkan populasi umum. Kembar
identik 40% sampai 65% berpeluang menderita skizofrenia
sedangkan kembar dizigotik 12%. Anak dan kedua orang tua yang
skizofrenia berpeluang 40%, satu orang tua 12%.
|
|
Gambaran klinis |
|
Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase
yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Pada
fase prodromal biasanya timbul gejala gejala non spesifik
yang lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun
sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi :
hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu
luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan perubahan ini akan
mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman, mereka
akan mengatakan “orang ini tidak seperti yang dulu”. Semakin lama
fase prodromal semakin buruk prognosisnya. Pada fase aktif
gejala positif / psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku
katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi
disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang berobat
pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala gejala tersebut
dapat hilang spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus
bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual dimana
gejala gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif /
psikotiknya sudah berkurang. Disamping gejala gejala yang terjadi
pada ketiga fase diatas, pendenta skizofrenia juga mengalami
gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan
peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan
sosial) |
|
Diagnosis: |
|
Pedoman Diagnostik PPDGJ-lll
|
- Harus ada sedikitnya satu gejala
berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih
bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
- - “thought echo”
= isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan
isi pikiran ulangan, walaupun isinya
sama, namun kualitasnya
berbeda ; atau
- “thought insertion or withdrawal” = isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil
keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
- “thought broadcasting”= isi
pikiranya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya;
- - “delusion of control” = waham tentang dirinya
dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
- “delusion of passivitiy” = waham tentang dirinya tidak
berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar;
(tentang ”dirinya” = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau
penginderaan khusus);
- “delusional perception” = pengalaman indrawi
yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasnya
bersifatmistik atau mukjizat;
- Halusinasi auditorik:
- suara halusinasi yang
berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau
- mendiskusikan perihal pasien
pasein di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang
berbicara), atau
- jenis suara halusinasi lain
yang berasal dan salah satu bagian tubuh.
- Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal
keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan
kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan
cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain)
- Atau paling sedikit dua gejala
dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
- halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila
disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah
berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai
oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau
apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau
berbulan-bulan terus menerus;
- arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang
tidak relevan, atau neologisme;
- perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement),
posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea,
negativisme, mutisme, dan stupor;
- gejala-gejala “negative”, seperti sikap sangat apatis, bicara
yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak
wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan
sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa
semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi oleh depresi
atau medikasi neuroleptika;
- Adanya gejala-gejala khas
tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan
atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase
nonpsikotik (prodromal)
- Harus ada suatu perubahan yang
konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality)
dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan,
tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri
(self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.
|
|
Prognosis |
|
Walaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada,
kebanyakan orang mempunyai gejala sisa dengan keparahan yang
bervariasi. Secara umum 25% individu sembuh sempurna, 40%
mengalami kekambuhan dan 35% mengalami perburukan. Sampai saat
ini belum ada metode yang dapat memprediksi siapa yang akan
menjadi sembuh siapa yang tidak, tetapi ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhinya seperti : usia tua, faktor
pencetus jelas, onset akut, riwayat sosial / pekerjaan pramorbid
baik, gejala depresi, menikah, riwayat keluarga gangguan
mood, sistem pendukung baik dan gejala positif ini akan
memberikan prognosis yang baik sedangkan onset muda, tidak ada
faktor pencetus, onset tidak jelas, riwayat sosial buruk,
autistik, tidak menikah/janda/duda, riwayat keluarga skizofrenia,
sistem pendukung buruk, gejala negatif, riwayat trauma prenatal,
tidak remisi dalam 3 tahun, sering relaps dan riwayat
agresif akan memberikan prognosis yang buruk.
|
|
Terapi / Tatalaksana |
|
I.
Psikofarmaka
|
-
Pemilihan obat
Pada dasarnya semua obat anti
psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada
dosis ekivalen, perbedaan utama pada efek sekunder ( efek
samping: sedasi, otonomik,
ekstrapiramidal). Pemilihan jenis antipsikosis mempertimbangkan
gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian
disesuaikan dengan dosis ekivalen. Apabila obat antipsikosis
tertentu tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah
optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti dengan
obat antipsikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama)
dengan dosis ekivalennya. Apabila dalam riwayat penggunaan obat
antipsikosis sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek
sampingnya ditolerir baik, maka dapat dipilih kembali untuk
pemakaian sekarang. Bila gejala negatif lebih menonjol dari
gejala positif pilihannya adalah obat antipsikosis atipikal,
Sebaliknya bila gejala positif lebih menonjol dibandingkan
gejala negatif pilihannya adalah tipikal. Begitu juga
pasien-pasien dengan efek samping ekstrapiramidal pilihan kita
adalah jenis atipikal. Obat antipsikotik yang beredar
dipasaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu
antipsikotik generasi pertama (APG I) dan antipsikotik generasi ke
dua (APG ll). APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di
mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoinfundibular
sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian
lama dapat memberikan efek samping berupa: gangguan
ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin
yang akan menyebabkan disfungsi seksual / peningkatan berat
badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu
APG I menimbulkan efek samping antikolinergik seperti mulut
kering pandangan kabur gangguaniniksi, defekasi dan hipotensi. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi
bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg
diantaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol
dan pimozide. Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom
psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif,
waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50
mg diantaranya adalah Chlorpromazine dan thiondazine digunakan
pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif
dan sulit tidur. APG II sering disebut sebagai serotonin
dopamin antagonis (SDA) atau antipsikotik atipikal. Bekerja
melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat jalur
dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping
extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala negatif. Obat
yang tersedia untuk golongan ini adalah clozapine, olanzapine,
quetiapine dan rispendon.
- Pengaturan Dosis
Dalam pengaturan dosis perlu
mempertimbangkan:
- Onset efek primer (efek klinis) : 2-4ininggu
Onset efek
sekunder (efek samping) : 2-6 jam
- Waktu paruh : 12-24 jam (pemberian 1-2 x/hr)
- Dosis pagi dan malam dapat berbeda (pagi kecil, malam besar)
sehingga tidak mengganggu kualitas hidup penderita.
- Obat antipsikosis long acting : fluphenazine decanoate 25 mg/cc
atau haloperidol decanoas 50 mg/cc, IM untuk 2-4ininggu. Berguna
untuk pasien yang tidak/sulitininum obat, dan untuk terapi
pemeliharaan.
-
Cara / Lama pemberian
Mulai dengan dosis awal sesuai
dengan dosis anjuran dinaikkan setiap 2-3 hr sampai mencapai
dosis efektif (sindrom psikosis reda), dievaluasi setiap 2ininggu bila pertu dinaikkan sampai dosis optimal kemudian
dipertahankan 8-12ininggu. (stabilisasi). Diturunkan setiap 2ininggu (dosis maintenance) lalu dipertahankan 6 bulan sampai 2
tahun ( diselingi drug holiday 1-2/hari/minggu) setelah itu
tapering off (dosis diturunkan 2-4ininggu) lalu stop.
Untuk pasien dengan serangan
sindrom psikosis multiepisode, terapi pemeliharaan paling
sedikit 5 tahun (ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2,5
sampai 5 kali). Pada umumnya pemberian obat antipsikosis
sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun setelah
semua gejala psikosis reda sama sekali. Pada penghentian
mendadak dapat timbul gejala cholinergic rebound gangguan
lambung, mual, muntah, diare, pusing dan gemetar. Keadaan ini dapat diatasi dengan pemberian anticholmnergic agent seperti
injeksi sulfas atropin 0,25 mg IM, tablet trhexyphenidyl 3x2
mg/hari.
|
| II. Terapi Psikososial |
| Ada beberapa macam metode yang
dapat dilakukan antara lain
: |
- Psikoterapi individual
- Terapi suportif
- Sosial skill training
- Terapi okupasi
- Terapi kognitif dan perilaku (CBT)
- Psikoterapi kelompok
- Psikoterapi keluarga
- Manajemen kasus
- Assertive Community Treatment (ACT)
|
|
Gangguan Psikosis lainnya |
Gangguan Waham
Pedoman Diagnosis
|
-
Waham-waham merupakan
satu-satunya ciri khas klinik atau gejala yang paling mencolok.
Waham-waham tersebut (baik tunggal maupun sebagai suatu sistem
waham) harus sudah ada sedikitnya 3 bulan lamanya, dan harus bersifat khas
pribadi (personal)
dan bukan budaya setempat
-
Gejala-gejala depresif atau
bahkan suatu episode depresif yang lengkap I “full-blown”,
mungkin terjadi secara intermiten, dengan syarat bahwa
waham-waham tersebut menetap pada saat-saat tidak
terdapat gangguan afektif itu.
-
Tidak boleh ada bukti-bukti
tentang adanya penyakit otak
-
Tidak boleh ada halusinasi
auditonk atau hanya kadang-kadang saja ada dan bersifat
sementara
-
Tidak ada riwayat gejala-gejala
skizofrenia (waham dikendalikan, siar pikiran, penumpulan afek,
dsb)
|
|
Gangguan Psikotlk Akut dan Sementara |
|
Pedoman Diagnostik |
|
|
|
Gangguan Skizoafektif
|
|
Pedoman Diagnostik
: |
-
Diagnosis gangguan
skizoafektif hanya dibuat apabila gejal-gejala definitive adanya
skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat
yang bersamaan (simultaneously), atau dalam beberapa hari yang
satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama,
dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak
memenuhi kritena baik skizofrenia maupun episode manik atau
depresif
-
Tidak dapat digunakan untuk
pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan gangguan
afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda
-
Bila seorang pasien
skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu
episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi
Pasca-skizofrenia). Beberapa pasien dapat mengalami episode
skizoafektif berulang, baik berjenis manik maupun depresif atau
campuran dari keduanya. Pasien lain mengalami satu atau dua
episode skizoafektif terselip di antara episode manik atau
depresif.
|
|
DAFTAR PUSTAKA |
-
Agus D, Pendekatan holistik
terhadap Skizofrenia, dalam majalah psikiatri, Jakarta, 2005:1.
-
World Health Organization
Collaborating Centre for Mental Health and Substance Abuse, Schizophrenia : General lmformation, Australia, 1997.
-
Buchanan RW, Carpenter WT,
Schizophrenia : introduction and overview, in:
Kaplan and Sadock comprehensive
textbook of psychiatry, 7th ed, Philadelphia:
lippincott Williams and wilkins :2000:
1096-1109.
-
Maslim R, skizofrenla, gangguan
skizotipal dan gangguan waham, dalam PPDGJ III, Jakarta, 1998
:46-57.
-
Kaplan, Hl, Sadock BJ, Grebb JA,
Skizofrenia, dalam : Sinopsis psikiatri, ed 7, vol 1,
1997 : 685-729.
-
American Psychiatric Association,
Schizophrenia and other psychotic disorders, in diagnostic and
statistical manual of mental disorders, 4th ed, Washington, DC,
1994:273-286.
-
Sapiie TWA, Patobiologi
skizofrenia dan peranan serotonin dalam gejala negatif skizofrenia,
dalam majalah psikiatri, Jakarta, 2007 : 77-89
-
National Institute of Mental
Health, National Institutes of Health, www.nimh.nih.gov, what is
schizophrenia?
-
Norquist GS, Narrow WE,
Schizophrenia : Epidemiology, in : Kaplan and Sadock Comprehensive
textbook of psychiatry, 7th ed, Philadelphia : Lippincott Williams and
wilkins, 2000:1110-1117.
-
Gur RE, Gur RC, Schizophrenia:
Brain structure and function in: Kaplan and Sadock Comprehensive
textbook of psychiatry, 7th ed, Philadelphia : Lippincott Williams
and wilkins, 2000:1117-1129
-
Kendler KS, Schizophrenia :
Genetics, in : Kaplan and Sadock Comprehensive textbook of
psychiatry, 7th ed, Philadelphia: Lippincott Williams and wilkins,
2000: 1147-1169
-
Maramis WF, Skizofrenia, dalam :
Catatan ilmu kedokteran jiwa, ed 7, Surabaya,
1998 :215-235.
-
Agus D, Difungsi kognitif pada
skizofrenia, dalam : majalah psikiatri, Jakarta 2005:
51-67
-
Sinaga BR, Skizofrenia dan
Diagnosis banding, Jakarta 2007:12-137.
-
Maslim R, Penggunaan kllnis obat
psikotropik, ed 2, Jakarta, 2001 : 14-22.
-
Surilena, lntervensi psikososial
dalam manajemen skizofrenia, dalam : majalah psikiatri, Jakarta 2005
:69-83.
|
|
CURICULUM VITAE |
|
|
| Nama
: |
dr. Luana Nantingkaseh A, SpKJ
|
| Tempat/tanggal lahir
: |
Bandung, 26 April 1959 |
|
Jenis Kelamin : |
Perempuan |
|
Agama : |
Kristen Protestan |
|
Status : |
menikah |
|
Alamat : |
Perumahan JatiAgung I BlokB III/no.18, RTOO3/0I0, Jati Bening
Baru, PondokGede |
|
Telpon : |
021-8482030, HP: 0813 81348522 |
|
|
Riwayat Pendidikan |
|
- Lulus Sekolah Dasar, tahun 1972
- Lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, tahun 1975
- Lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, tahun 1978
- Lulus Dokter FK UKI, tahun 1985
- Lulus Pendidikan Dokter Spesialis I Ilmu Kedokteran Jiwa, tahun 2004
|
|
|
Riwayat Pekerjaan |
|
- Asisten Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSU FKUKI 1985- 1998
- Kepata Unit Pelayanan Fungsional Psikiatri RSU FKUKI 2004 -
sekarang
- Staf Pengajar Psikiatri FKUKI 2004- sekarang
- Anggota TIM POKJA HIV AIDS RSU FKUKI 2005 - sekarang
|
|